Hati-Hati, Sulit Bangun Setelah Berbaring Berpotensi Pecah Pembuluh Darah

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 28 September 2021 08:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 28 481 2477895 hati-hati-sulit-bangun-setelah-berbaring-berpotensi-pecah-pembuluh-darah-OgtZoqVOQr.jpg Pecah pembuluh darah (Foto: Nayati healthcare)

APAKAH  Anda pernah mengalami pusing atau kepala berkunang saat mencoba bangun dari posisi berbaring atau tidur? Dan apakah itu terjadi berulang kali?

Dokter Subrady Leo Soetjipto Soepodo, Sp.BS, seorang Dokter Spesialis Bedah Saraf Primaya Hospital Pasar Kemis, memperingati bahwa itu adalah potensi seseorang alami penyumbatan atau pecah pembuluh darah.

 pusing

"Seseorang berpotensi mengalami penyumbatan atau pecah pembuluh darah dapat diamati ketika dia sering merasa pusing serta membutuhkan waktu atau tidak bisa langsung bangun dari posisi berbaring," terang dr Subrady , Selasa, (28/9/2021).

Selain itu, kondisi lain yang cukup mengkhawatirkan dan patut diwaspadai adalah dengan mengamati fungsi bagian muka, bicara, gerak, dan menelan. Jika sudah tidak normal, itu bisa jadi pengingat Anda untuk menghubungi dokter.

Pendarahan otak pada dasarnya tidak terjadi tiba-tiba. Menurut Dokter Subrady, kecuali pada seseorang yang mengalami kecelakaan. Karena itu, perubahan yang terjadi pada tubuh mesti diperhatikan dan jangan disepelekan begitu saja.

Sakit kepala atau kebas di beberapa bagian tubuh seperti kebas pada kaki, tangan, atau wajah juga merupakan gejala dasar yang bisa terjadi dan sering diabaikan oleh banyak orang.

"Sakit kepala berulang menjadi salah satu indikasi terjadinya penyumbatan pembuluh darah sekitar 80% atau ada kemungkinan sebagian pembuluh darah pecah sekitar 20%. Baik penyumbatan pembuluh darah maupun pecahnya pembuluh darah dapat berakibat pada pendarahan pada otak," papar Dokter Subrady.

Penyebab pecah pembuluh darah antara lain ada kelainan di pembuluh darah seperti pembuluh darah keras atau aterosklerotik, pembuluh darah melebar atau aneurisma, pembuluh darah yang bocor atau fistula. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya faktor risiko penyakit seperti darah tinggi, obesitas, kolesterol, diabetes melitus, asam urat, dan stroke.

"Penyakit-penyakit tersebut jika tidak dikontrol secara rutin akan berakibat fatal yang berujung pada pendarahan pada otak," ungkapnya.

Dokter Subrady menambahkan, seseorang yang mengonsumsi obat-obatan psikotropika atau obat-obatan pengencer darah juga dapat memicu peningkatan tekanan darah dan berujung pada pendarahan pada otak. Selain itu, faktor risiko umur juga menjadi salah satu pemicu.

"Kondisi tubuh seseorang yang lanjut usia akan mengalami penurunan fungsi tubuh dibandingkan pada usia muda," tambah Dokter Subrady.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini