Dokter: Ngeden Berlebihan saat BAB Bisa Jadi Pencetus Pendarahan Otak!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 28 September 2021 09:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 28 481 2477899 dokter-ngeden-berlebihan-saat-bab-bisa-jadi-pencetus-pendarahan-otak-UZsqUqHiqo.jpg Pendarahan otak (Foto: Lompoc valley medical)

RUPANYA Tukul Arwana terus membaik kondisinya setelah mengalami pendarahan otak secara tiba-tiba. Pusing parah menjadi gejala yang sempat diamati orang terdekatnya.

Kini, komedian yang juga seorang pembawa acara itu masih dirawat intensif di rumah sakit. Menurut informasi yang diberikan manajer, komunikasi dengan Tukul sudah bisa, mesti dirinya belum bisa bersuara, masih lewat gerakan tangan.

Berkaca dari apa yang dialami Tukul, masyarakat mesti memahami betul bagaimana pendarahan otak terjadi. Sebab, jika hal itu muncul akan sangat berbahaya bagi keselamatan nyawa maupun efek jangka panjang jika dapat tertolong.

Ada beberapa faktor yang tidak disadari orang terjadi pendarahan otak, salah satunya ngeden berlebihan saat buang air besar. Ya, refleks tersebut ternyata bisa berbahaya dan bisa sebabkan pendarahan otak.

 BAB

"Ngeden ketika buang air besar, kemudian batuk berulang, atau batuk dengan menahan napas dapat menyebabkan seseorang tidak sadarkan diri secara tiba-tiba," terang Dokter Spesialis Bedah Saraf Primaya Hospital Pasar Kemis, dr Subrady Leo Soetjipto Soepodo, Sp.BS, belum lama ini.

Mengapa refleks yang mungkin dianggap biasa saja itu dapat menyebabkan pendarahan otak?

Menurut paparan Dokter Subrady, itu karena valsava manuver atau mengeden dapat menjadi pencetus peningkatan tekanan intra kranial. Peningkatan tekanan intra kranial ini dapat menyebabkan pecah pembuluh darah pada penderita darah tinggi yang akhirnya terjadinya perdarahan otak.

"Secara tidak sadar, valsava manuver atau mengedan juga biasa terjadi saat seseorang batuk atau menahan napas," tambah dia.

Kapan pendarahan otak terjadi? Berapa lama prosesnya hingga terjadi?

Dokter Subrady menerangkan, pendarahan otak prosesnya bervariasi. Ada yang hitungan hari, bulan, atau tahun. Itu sangat dipengaruhi dari individunya sendiri, apakah gejala-gejala yang dirasakan dianggap keluhan atau tidak.

"Semakin cepat seseorang mengenali gejala, maka semakin mudah meminimalisir pendarahan pada otak," terangnya.

Jika seseorang sudah mengalami pendarahan pada otak, sambung dr Subrady, maka orang tersebut dapat mengalami beberapa kondisi kesehatan serius seperti hilang kesadaran, terjatuh tiba-tiba, atau tidak terbangun dari tidurnya.

Deteksi dini menjadi kunci di sini. Setiap orang dapat melakukan screening awal potensi penyumbatan dan pecahnya pembuluh darah, dan cara yang paling mudah yaitu mengecek tekanan darah melalui alat pengukur tekanan darah sesaat setelah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas.

"Bangun tidur sebelum beraktivitas adalah waktu yang paling tepat untuk menunjukkan tekanan darah dibandingkan setelah beraktivitas," ujar dr. Subrady.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini