Anemia Jadi Penyumbang Risiko Stunting di Indonesia

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 28 September 2021 14:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 28 481 2478072 anemia-jadi-penyumbang-risiko-stunting-di-indonesia-AjzYxATMV4.jpg Stunting (Foto: The telegraph)

STUNTING menjadi salah satu tugas yang harus diselesaikan pemerintah. Saat ini sudah terdeteksi terdapat sekira 50 persen provinsi yang prevalensi stuntingnya lebih dari 30 persen. Sementara prevalensi balita stunting menurut provinsi pada 2019 rata-ratanya adalah 27,7 persen.

Wakil Menteri Kesehatan dr. Dante Saksono Harbuwono menyebut bahwa prevalensi stunting nasional saat ini sedang menunjukkan tren yang menurun. Namun, Indonesia memiliki target untuk mencapai angka stunting sebesar 14 persen pada 2024.

 anemia

Dalam acara 'Sosialisasi Percepatan Penurunan Stunting dan Penanggulangan Tuberkulosis' di channel YouTube Kemenko PMK, Selasa (28/9/2021), Wamenkes Dante, menjelaskan salah satu utama penyebab stunting yang banyak dialami masyarakat.

"Salah satu penyebab stunting adalah anemia pada saat kehamilan. Anemia pada saat hamil bukan terjadi pada masa kehamilan melainkan pada masa pertumbuhan remaja putri menjelang usia-usia produktif," ujar Wamenkes Dante.

Menurutnya saat ini banyak sekali remaja putri di Indonesia yang mengalami anemia. Alhasil dengan konsumsi obat penambah darah sejak dini maka diharapkan ketika proses kehamilan, remaja putri tersebut sudah tidak dalam kondisi anemia.

"Ini bukan persoalan yang mudah karena semua infrastruktur dari semua departemen, seperti Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, juga ikut berperan dalam program-program ini," tambahnya.

Sekadar informasi, target penurunan angka stunting hingga mencapai 14 persen tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) tentang percepatan penurunan stunting No.72 tahun 2021 yang ditandatangani pada 5 Agustus lalu.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini