Menyedihkan, Seorang Ibu Kehilangan Bayinya saat Koma Akibat Covid-19

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 28 September 2021 11:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 28 612 2477988 menyedihkan-seorang-ibu-kehilangan-bayinya-saat-koma-akibat-covid-19-kMjZejJVoU.jpg Pasien Covid-19 (Foto: UKRI)

RUPANYA Kimberly Rangel mesti menelan pahitnya kehidupan bertubi-tubi. Infeksi Covid-19 yang diderita menyebabkannya mesti dirawat intensif di rumah sakit dengan ventilator dan di sisi lain bayi yang tengah di kandungnya dinyatakan meninggal dunia.

Ibu hamil ini dilaporkan sedang berada dalam keadaan koma saat bayinya dinyatakan wafat. Tapi, sempat ada momen Kimberly Rangel sadar dan tahu bahwa bayinya sudah tak dikandung. Momen ini menyayat hatinya sangat dalam.

 sangat sedih

"Dia sadar tapi kemudian sangat cemas dan kesulitan bernapas," kata Anna Rangel, saudara Kimberly yang memang menjaganya sejak di rumah sakit, dilaporkan Fox News, Selasa (28/9/2021).

Karena mengalami perburukan kondisi kesehatan akibat kabar menyedihkan itu, dokter yang menangani Kimberly memutuskan untuk membuat koma lagi perempuan asal Meridian, pinggiran kora Boise, Amerika Serikat (AS) tersebut.

Menurut laporan medis, bayi Kimberly yang tak bisa diselamatkan itu berjenis kelamin perempuan. Ia diharapkan dapat menjadi anak ketiga Kimberly, namun takdir berkata lain. Sang bayi mesti meregang nyawa sebelum dibesarkan oleh ibunya.

Sementara itu, pihak keluarga Kimberly mengatakan bahwa Kimberly tidak divaksin Covid-19 dan karena itu, pihak keluarga ingin membagikan kisah ini kepada masyarakat agar menjadi pengingat pentingnya vaksinasi untuk ibu hamil.

"Kami tak ingin ada Kimberly lainnya, karena itu kami sangat mendorong para ibu hamil untuk mau divaksinasi Covid-19," ungkap pihak keluarga Kimberly Rangel.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menginformasikan bahwa wanita hamil yang tidak divaksinasi berisiko sakit parah dan bisa mengalami komplikasi kehamilan jika mereka terinfeksi Covid-19 saat hamil. "Vaksin tidak meningkatkan risiko keguguran dan belum terbukti berbahaya bagi janin," terang laporan itu.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini