Tak Ada Kata Terlambat untuk Cegah Penyakit Jantung

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 29 September 2021 15:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 29 612 2478694 tak-ada-kata-terlambat-untuk-cegah-penyakit-jantung-cnwyGeSkPo.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

DATA World Heart Federation mencatat Penyakit jantung adalah pembunuh nomor satu di dunia. Penyakit ini pun memang identik menyerang mereka yang sudah lanjut usia.

Tapi jangan salah, mereka yang tergolong masih muda juga banyak yang terkena penyakit jantung loh. Seringkali disebut sebagai silent killer, penyakit jantung terjadi disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat yang dilakukan seseorang.

Dr Seth Martin, Ahli Kardiologi mengatakan, perubahan gaya hidup memang harus dilakukan sedini mungkin jika tidak ingin terkena serangan jantung.

Jantung

"Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan, memulai sekarang lebih baik daripada tidak pernah memulai sama sekali. Tindakan pencegahan dini adalah perlindungan terbaik terhadap serangan jantung," kata dia seperti dikutip dari Antara.

Menurut Dr Seth Martin, salah satu cara paling ampuh untuk mencegah serangan jantung adalah menjalani gaya hidup sehat, termasuk tidak merokok. "Jika Anda belum pernah merokok, jantung Anda mungkin berada dalam posisi yang lebih sehat dibandingkan seseorang yang merokok," tambahnya.

Selain itu, mengatur pola makan, aktif bergerak dan berolahraga serta menghindari stres adalah langkah selanjutnya menuju hidup sehat dan bebas penyakit jantung.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), setidaknya 15 dari 1.000 orang atau sekitar 2,7 juta penduduk di Indonesia menderita penyakit jantung.

Penyakit jantung juga termasuk dalam salah satu dari Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menurut data Kementerian PPN/Bappenas pada tahun 2019, terdapat tren pergeseran pola yang dahulu lebih sering dialami kelompok usia lanjut namun sekarang sudah mulai mengancam kelompok usia muda dengan kualitas kesehatan yang rendah.

Selain itu, kondisi pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini menjadi salah satu penyebabnya berkurangnya aktivitas fisik karena adanya pembatasan sosial, sehingga meningkatkan risiko terkena penyakit jantung. Selain itu, masyarakat juga menunda perawatan dan enggan mengakses layanan kesehatan karena khawatir tertular Covid-19.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini