Share

Teluk Jakarta Tercemar Paracetamol, Apa Dampaknya terhadap Manusia?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 05 Oktober 2021 10:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 05 481 2481424 teluk-jakarta-tercemar-paracetamol-apa-dampaknya-terhadap-manusia-kc3XiedGQy.jpeg Ilustrasi (Foto : Dok.Okezone)

DUA Teluk Jakarta tercemar paracetamol. Berdasar penelitian yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan University of Brighton UK, kontaminan paracetamol di muara sungai Angke sebesar 610 ng/L dan muara sungai Ciliwung Ancol 420 ng/L.

"Konsentrat paracetamol yang tinggi meningkatkan kekhawatiran tentang risiko lingkungan yang terkait dengan paparan jangka panjang terhadap organisme laut di Teluk Jakarta," terang laporan BRIN yang dirilis pada 2 Oktober 2021.

Paracetamol dipilih untuk diinvestigasi karena merupakan salah satu kandungan yang berasal dari produk obat atau farmasi yang sangat banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia secara bebas tanpa resep dokter.

Paracetamol

"Hasil penelitian awal yang kami lakukan ingin mengetahui apakah ada sisa paracetamol yang terbuang ke sistem perairan laut," ungkap Prof. Dr. Zainal Arifin, salah seorang anggota peneliti dari BRIN.

"Kami melakukan penelitian di dua lokasi utama, yaitu di Teluk Jakarta dan Teluk Eretan. Konsentrasi paracetamol tertinggi ditemukan di pesisir Teluk Jakarta, sedangkan di Teluk Eretan tidak terdeteksi alat," lanjutnya.

Baca Juga : Teluk Jakarta Tercemar Paracetamol, Begini Cara Buang Sampah Obat yang Benar

Terkait dengan bahaya kandungan paracetamol di dalam air Teluk Jakarta untuk manusia, menurut peneliti, hal itu belum dapat diketahui informasinya. Sebab, pengujian dilakukan pada hewan dan informasi yang tersedia sekarang baru dampak bagi lingkungan.

Itu mengapa para peneliti mengharapkan adanya studi lanjutan dari temuan ini sehingga informasi terkait dengan ditemukannya kandungan paracetamol di teluk Jakarta ini bisa lebih berkembang, termasuk soal efek sampingnya bagi manusia.

Dalam laporan BRIN, peneliti menilai cemaran ini berisiko buruk bagi hewan-hewan laut. "Hasil penelitian di laboratorium menemukan, pemaparan paracetamol pada konsentrasi 40 ng/L telah menyebabkan atresia pada kerang betina, dan reaksi pembengkakan," ungkap peneliti BRIN lainnya, Dr. Wulan Koagouw.

Lebih lanjut, dari hasil penelitian ini juga menunjukkan, jika dibandingkan dengan pantai-pantai lain di belahan dunia, konsentrasi paracetamol di Teluk Jakarta adalah relatif tinggi (420-610 ng/L) dibanding di pantai Brazil (34. 6 ng/L) dan pantai utara Portugis (51.2 – 584 ng/L).

"Meskipun memerlukan penelitian lebih lanjut, namun beberapa hasil penelitian di Asia Timur, seperti Korea Selatan menyebutkan bahwa zooplankton yang terpapar paracetamol menyebabkan peningkatan stress hewan dan oxidative stress, yakni ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan sistem antioksidan yang berperan dalam mempertahankan homeostasis," papar laporan studi tersebut.

"Penelitian lanjutan memang perlu dilakukan terkait potensi bahaya paracetamol atau produk farmasi lainnya pada biota-biota laut maupun pada manusia," ungkap Wulan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini