Share

Diklaim Obat Covid-19, Molnupiravir Dicurigai Bisa Sebabkan Kanker dan Cacat Lahir

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 07 Oktober 2021 12:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 07 481 2482638 diklaim-obat-covid-19-molnupiravir-dicurigai-bisa-sebabkan-kanker-dan-cacat-lahir-nehKfX0n08.jpg Molnupiravir (Foto: Medicalnewstoday)

MOLNUPIRAVIR, obat antivirus Covid-19 oral produksi Merck, akan ditinjau keamanan dan efektivitasnya oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) untuk keluar izin penggunaan daruratnya (EUA).

Namun, ilmuwan memperingati bahwa obat Covid-19 oral tersebut berpotensi membawa masalah keamanan serius, berasal dari metode yang digunakan untuk membunuh virus.

Obat antivirus Molnupiravir terintegrasi ke dalam susunan genetik virus dan ini menyebabkan sejumlah besar mutasi untuk menghancurkan virus. Tapi, beberapa tes laboratorium menunjukkan bahwa kemampuan obat tersebut malah menyebabkan mutasi pada materi genetik sel manusia, yang secara teoritis menyebabkan kanker atau cacat lahir.

Molnupiravir

Namun, juru bicara Merck menyatakan pada Fox News bahwa tes pada hewan menunjukkan sebaliknya. "Totalitas data dari penelitian ini menujukkan bahwa Molnupiravir tidak mutagenik atau genotoksik dalam sistem mamalia in vivo," terangnya secara tertulis, dikutip Kamis (7/10/2021).

Baca Juga : Obat Covid-19 Molnupiravir Kurangi Risiko Kematian, Pakar: Lebih Baik Tak Terinfeksi

Lebih lanjut, dr Raymond Schinazi, profesor dan direktur divisi farmakologi biokimia di Fakultas Kedokteran Universitas Emory memperingatkan NHC, senyawa yang berubah menjadi Molnupiravir setelah tertelan. Ia menyarankan agar hati-hati dalam penggunaan obat ini.

"Karena berpotensi berbahaya bagi kaum muda usia reproduksi atau mereka yang sedang hamil. Uji coba Merck sendiri tidak memasukkan ibu hamil sebagai subjek penelitian," terang laporan tersebut.

Berdasar data penelitian, dikatakan bahwa obat oral Covid-19 ini mengurangi risiko rawat inap dan kematian hampir 50 persen, dibandingkan dengan kelompok penerima plasebo pada pasien Covid-19 dewasa dengan gejala ringan hingga sedang.

"Hanya 7,3% pasien yang menerima obat Molnupiravir dirawat di rumah sakit atau kemudian meninggal dunia, dibandingkan 14,1% pasien acak penerima plasebo pada hari ke-29 penelitian," ungkap laporannya.

Hasil uji klinis tersebut mengesankan beberapa pihak, misalnya dr Anthony Fauci. "Data Merck sangat mengesankan, terlebih data soal tidak ada kematian yang terjadi selama proses penelitian dibanding dengan 8 pasien di kelompok plasebo," terangnya.

Ketua Satgas Covid-19 Gedung Putih, Jeff Zients, senada dengan dr Fauci. Tapi, menurutnya vaksinasi tetap harus diprioritaskan. "Ini adalah alat tambahan potensial untuk melindungi orang dari kasus terburuk jika terpapar Covid-19. Namun, lebih baik lagi jika mencegah orang terpapar," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini