Share

Mungkinkah Kita Terhindar dari Masalah Mikroplastik?

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 07 Oktober 2021 20:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 07 612 2482918 mungkinkah-kita-terhindar-dari-masalah-mikroplastik-GAhWDcYlcB.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

MASALAH mikroplastik menjadi isu hangat terutama terkait dengan air minum dalam kemasan. Tapi saat ini belum ada uji klinis di dunia ini atas dampak paparan mikroplastik terhadap kesehatan manusia.

Pada 2018, riset yang dilakukan peneliti dari Departemen Kimia, State University of New York, Amerika Serikat yang dipublikasikan oleh banyak media, menemukan bahwa 93 persen air minum dalam kemasan botol plastik mengandung mikroplastik.

Hasil pengujian atas 259 botol air minum dalam kemasan dari 11 merek yang dijual di delapan negara, termasuk di antaranya Indonesia, ditemukan partikel mikroplastik berukuran antara 6,5 mikrometer hingga 100 mikrometer. Kandungan mikroplastiknya bisa mencapai 10.390 partikel per liternya.

Pada beberapa hari lalu, Greenpeace Indonesia bekerja sama dengan Laboratorium Kimia Anorganik Universitas Indonesia juga merilis laporan hasil pengujian kandungan mikroplastik pada air minum dalam kemasan. Pengujian mikroskospik ini secara khusus menyoroti kemasan galon sekali pakai yang beredar di kawasan Jabodetabek.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2018 pernah merilis pernyataan bahwa belum ada studi ilmiah yang membuktikan bahaya mikroplastik bagi tubuh manusia. Komite ahli gabungan FAO dan WHO sejauh ini juga belum mengevaluasi toksisitas mikroplastik terhadap kesehatan manusia.

BPOM karenanya mengimbau konsumen tetap tenang karena keamanan dan mutu produk air minum dalam kemasan yang beredar di Indonesia sudah diatur oleh Standar Nasional Indonesia (SNI).

Air mineral

Pukovisa Prawiroharjo, ahli saraf dari Universitas Indonesia mengatakan, sejauh ini yang mengemuka barulah sebatas asumsi bahwa akumulasi mikroplastik dalam tubuh manusia dalam jangka panjang bisa menyebabkan gangguan kesehatan.

WHO sendiri, telah menetapkan ambang batas berbahaya paparan mikroplastik, yakni 20 miligram per liter. Jika kita melihat hasil penelitian yang menunjukkan bahwa air minum kemasan dalam galon sekali pakai paling banyak mengandung 9,45 miligram per liter, maka kandungan kontaminan tersebut masihlah di bawah ambang batas berbahaya yang disampaikan WHO.

Dari pengujian yang dilakukan oleh Laboratorium Kimia Anorganik Universitas Indonesia, kita juga bisa mengetahui bahwa tidak ada air minum dalam kemasan yang sama sekali terbebas dari partikel mikroplastik. Artinya, mikroplastik adalah kontaminan yang mau tidak mau ada dalam air minum yang dikemas dalam wadah berbahan plastik.

Bahkan, pengujian itu juga mengungkap bahwa sumber air di alam (UI menguji sampel dari Situ Gunung, Puncak, dan Sentul) tetap mengandung kontaminan mikroplastik meskipun dalam jumlah yang lebih kecil, yakni 32,5 juta partikel mikroplastik per liter dengan ukuran rata-rata antara 19,7 mikrometer hingga 2.106 mikrometer. Agustino Zulys mengatakan bahwa kita tidak bisa terhindar dari meminum air yang ada mikroplastiknya.

Jika kita mau terhindari dari mikroplastik, menurut Agustino, kita harus berepot-repot menyuling air dan kemudian menempatkan air hasil sulingan itu di wadah yang tidak terbuat dari plastik. Sebab, meskipun kemasan plastik terlihat rigit, plastik dalam ukuran mikroskopik adalah untaian-untaian polimer yang karena pergeseran dan panas bisa runtuh dan kemudian berada di dalam air itu sendiri.

Isu mikroplastik tidak semata-mata terkait dengan kemasan galon sekali pakai yang kebetulan bahannya sama dengan kemasan botol. Tapi, ini terkait dengan seluruh air minum yang dikemas dalam wadah berbahan plastik.

"Kita juga tahu bahwa kemasan galon isi ulang mengandung Bisphenol A (BPA) yang sudah jelas berbahaya bagi tubuh manusia. BPOM mengakui fakta ini meskipun menyatakan bahwa kandungan BPA dalam galon isi ulang masih di bawah ambang batas berbahaya," tulis dia dalam keterangan tertulisnya.

Pertanyaannya, apakah kita harus menolak galon sekali pakai dan menerima galon isi ulang hanya karena galon isi ulang bisa digunakan kembali? Konsep daur ulang pun tidak terbatas pada “bisa digunakan kembali” tapi mencakup “bisa diproduksi kembali” menjadi produk baru yang sama atau produk baru yang berbeda.

Pada akhirnya, kita tidak bisa terlepas dari kontaminan mikroplastik karena bukan hanya penggunaan wadah plastik yang bisa memicu munculnya mikroplastik tapi juga bahkan sumber-sumber air yang ada di alam pun mengandung mikroplastik.

Yang perlu kita lakukan menghadapi isu ini tampaknya adalah berusaha semaksimal mungkin agar kandungan kontaminan tersebut tetap berada di bawah ambang batas berbahaya.

Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa air minum dalam kemasan galon sekali pakai mengandung partikel mikroplastik berukuran rata-rata 25,57 mikrometer sampai 27,06 mikrometer. Sementara itu, kandungannya mencapai rata-rata 80 juta hingga 95 juta partikel per liternya.

Analisis konsentrasi atau beratnya menunjukkan air minum dalam kemasan galon sekali pakai mengandung paling banyak 5 mg per liter.

Laporan itu juga mengungkap bahwa orang Indonesia rata-rata mengonsumsi air minum dalam kemasan, baik itu dalam kemasan botol, galon isi ulang, maupun galon sekali pakai sebanyak 1,89 liter per hari. Itu berarti orang Indonesia terpapar mikroplastik rata-rata sebanyak 0,37 miligram sampai 9,45 miligram per hari.

Dari kedua penelitian di atas, muncul dua pertanyaan. Pertama, apa dampak paparan mikroplastik terhadap kesehatan manusia dalam jangka panjang. Kedua, adakah alternatif air minum dalam kemasan yang bebas dari mikroplastik sama sekali?

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini