Hari Kesehatan Mental, Kemenkes: 1 dari 5 Orang Indonesia Alami Gangguan Mental

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 11 Oktober 2021 14:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 11 481 2484515 hari-kesehatan-mental-kemenkes-1-dari-5-orang-indonesia-alami-gangguan-mental-tHnuRiui3Q.jpg Gangguan mental (Foto: Bright quest)

MEMPERINGATI Hari Kesehatan Mental, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan meningkatnya masalah kesehatan mental di masa pandemi.

Terlebih di masa sulit ini, gejala seperti kecemasan, rasa takut berlebih, dan perasaan kesepian jadi hal yang banyak dikeluhkan masyarakat.

 cemas

Dengan pembatasan pergerakan, komunikasi langsung yang dulunya lebih mudah diakses, kini dibatasi. Ya, walau teknologi banyak membantu dengan setidaknya koneksi tetap tercipta meski secara virtual.

Kemenkes sendiri diwakili Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Dr. Celestinus Eigya Munthe, menerangkan bahwa prevalensi orang dengan gangguan mental di Indonesia itu cukup tinggi.

"Untuk saat ini, Indonesia memiliki angka prevalensi orang dengan gangguan mental sekitar 1 dari 5 penduduk, artinya sekitar 20% populasi Indonesia itu mempunyai potensi-potensi masalah gangguan mental," papar Celestinus dikutip dari Sehat Negeriku Kemenkes, Senin (11/10/2021).

"Ini masalah yang sangat tinggi karena 20% dari 250 juta jiwa secara keseluruhan mengalami masalah kesehatan mental," tambahnya.

Masalah tersebut semakin pelik dengan fakta di lapangan mengungkapkan bahwa belum semua provinsi di Indonesia memiliki rumah sakit jiwa (RSJ). Ini berakibat pada ketidakmerataan layanan kesehatan mental bagi masyarakat.

Belum berhenti di situ, masalah lain yang ada di lingkup kesehatan mental adalah terbatasnya sarana prasarana dan tingginya beban akibat masalah gangguan mental ini.

"Masalah sumber daya manusia profesional untuk tenaga kesehatan mental juga masih sangat kurang, karena sampai saat ini jumlah psikiater sebagai tenaga profesional untuk pelayanan kesehatan mental hanya 1.053 orang," ungkap Celestinus.

Artinya, satu psikiater mesti melayani sekitar 250 ribu penduduk. Menurut Celestinus, ini sangat tidak ideal dan menjadi beban yang sangat besar dalam upaya meningkatkan layanan kesehatan mental di Indonesia.

Belum lagi masalah stigma dan diskriminasi masyarakat mengenai masalah gangguan mental. Hal ini pun disadari penuh Kementerian Kesehatan.

"Kami sadari bahwa sampai hari ini kami masih mengupayakan edukasi kepada masyarakat dan tenaga profesional lainnya agar dapat menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan gangguan mental, serta pemenuhan hak asasi manusia kepada mereka," tambah Celestinus.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini