Antibodinya di Bawah Standar, FDA Tolak Booster Milik Moderna

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 13 Oktober 2021 14:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 13 612 2485663 antibodinya-di-bawah-standar-fda-tolak-booster-milik-moderna-XjbBtVLbMm.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

BADAN Pegawas obat dan Makanan Amerika Serikat atau yang dikenal sebagai The Food and Drug Administration (FDA) tengah mengkaji kebutuhan booster di Amerika. Ada beberapa vaksin yang harus ditambah sebagai vaksin booster atau dosis ketiga.

Salah satunya adalah vaksin Moderna, yang dikabarkan mengalami penurunan efikasi setidaknya enam bulan setelah dosis kedua. Meski demikian, FDA tidak melihat bahwa vaksin Moderna memerlukan vaksin dosis ketiga.

Panel ahli penasihat independen pun akan memeriksa data yang tersedia tentang booster Moderna dan Johnson & Johnson dalam dua pertemuan di akhir pekan ini. Pemungutan suara akan menjadi rekomendasi otorisasi darurat booster untuk kedua vaksin. Meskipun para penasihat independen ini tidak mengikat, tapi biasanya FDA akan mengambil saran dari mereka.

Dalam dokumen yang dirilis Moderna, mereka berpendapat bahwa suntikan ketiga diperlukan karena potensi vaksinnya berkurang seiring waktu, dengan tingkat antibodi turun setelah enam hingga delapan bulan sejak dosis kedua disuntikan.

Perusahaan pun juga concern terhadap adanya penurunan efektivitas terhadap varian Delta. Meskipun, FDA mencatat ada penelitian berbeda tentang apakah perlindungan Moderna melemah dari waktu ke waktu terhadap infeksi simtomatik atau terhadap varian Delta.

Melansir NYTimes, Moderna pun tidak mengatakan bahwa booster diperlukan untuk mencegah penyakit parah atau rawat inap, tetapi memusatkan argumennya pada pencegahan infeksi dan penyakit ringan hingga sedang.

Moderna mengatakan tingkat antibodi rata-rata peserta dalam penelitiannya adalah 1,8 kali lebih tinggi setelah booster daripada setelah suntikan kedua. Dalam pengukuran lain, booster meningkatkan antibodi setidaknya empat kali lipat pada 87,9 persen dibandingkan setelah dosis kedua, angka yang lebih rendah dari persyaratan FDA sebesar 88,4 persen.

Dalam dokumen yang diserahkan Johnson & Johnson ke FDA Menjelang pertemuan minggu ini, perusahaan berpendapat bahwa suntikan booster vaksinnya meningkatkan perlindungan terhadap Covid-19, termasuk terhadap bentuk penyakit yang parah, dan meningkatkan kekuatan respons kekebalan tubuh terhadap varian virus.

Johnson & Johnson juga mengatakan bahwa suntikan booster dapat diberikan paling cepat dua bulan setelah dosis pertama, tetapi direkomendasikan untuk melakukannya setidaknya enam bulan setelahnya, agar ada respons kekebalan yang lebih kuat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini