Rachel Venya Diduga Kabur dari Wisma Atlet, Ini Protokol Kesehatan Usai Melakukan Perjalanan Internasional

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 13 Oktober 2021 14:55 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 13 612 2485694 rachel-venya-diduga-kabur-dari-wisma-atlet-ini-protokol-kesehatan-usai-melakukan-perjalanan-internasional-lzSnrlVKLg.jpg Rachel Venya (Foto: Inst Rachel Venya)

PUBLIK dihebohkan dengan dugaan kaburnya selebgram Rachel Venya dari Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Pademangan, Jakarta Utara. Kabar tersebut membuat publik menjadi heboh dan mempertanyakan tindakan nekat yang dilakukan oleh mantan istri Nico Al Hakim itu.

Sebagaimana diketahui, Rachel Venya bersama kekasihnya yang baru pulang dari liburan menuju New York, Amerika Serikat, diwajibkan untuk melakukan karantina selama delapan hari.

 Rachel venya

Namun, ketika baru menjalani karantina selama tiga hari, ia dikabarkan kabur meninggalkan Wisma Atlet.

Merangkum dari Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada masa Pandemi Covid-19, beberapa prosedur termasuk karantina memang diwajibkan bagi seseorang yang baru tiba di Indonesia usai melakukan perjalanan internasional. Protokol tersebut diantaranya:

1. Pelaku perjalanan internasional yang berstatus Warga Negara Indonesia (WNI) dari luar negeri diizinkan memasuki Indonesia dengan tetap mengikuti protokol kesehatan ketat sebagaimana ditetapkan pemerintah.

2. Seluruh pelaku perjalanan internasional baik yang berstatus WNI atau Warga negara Asing (WNA) harus mengikuti ketentuan persyaratan, seperti: mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah, menunjukkan kartu atau sertifikat vaksin baik berupa fisik maupun digital dan telah menerima vaksin Covid-19 dosis lengkap.

3. Menunjukkan hasil negatif melalui tes RT-PCR di negara asal yang sampelnya diambul dalam kurun waktu maksimal 3x24 jam sebelum jam keberangkatan dan dilampirkan pada saat pemeriksana kesehatan atau e-HAC internasional Indonesia.

4. Pada saat kedatangan, dilakukan tes ulang RT-PCR bagi pelaku perjalanan internasional dan diwajibkan menjalani karantina selama 8x24jam dengan ketentuan:

Bagi WNI yaitu Pekerja Migran Indonesia (PMI), pelajar atau mahasiswa atau pegawai pemerintah yang kembali dari perjalanan dinas luar negeri sesuai dengan Surat Keputusan Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nomor 11 Tahun 2021 tentang Pintu Masuk, tempat karantina dan kewajiban RT-PCR bagi WNI pelaku perjalanan internasional dengan biaya ditanggung oleh pemerintah.

Bagi WNI diluar kriteria di atas dan bagi WNA termasuk diplomat asing diluar kepala perwakilan asing dan keluarga kepala perwakilan asing menjalani karantina di tempat akomodasi karantina.

5. Tempat akomodasi karantina wajib mendapatkan rekomendasi dari Satgas Penanganan Covid-19 yang telah memenuhi syarat dan ketentuan dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia untuk kebersihan, kesehatan, keamanan dan kelestarian lingkungan.

6. Dalam hal kepala perwakilan asing dan keluarga yang bertugas di Indonesia dapat melakukan karantina mandiri di kediaman masing-masing selama 8x24 jam.

7. Dalam hal pemeriksaan ulang RT-PCR pada saat kedatangan menunjukan hasil positif, maka dilakukan perawatan di rumah sakit bagi WNI dengan biaya ditanggung oleh pemerintah dan bgai WNA dengan biaya seluruhnya ditanggung mandiri.

8. WNA tidak dapat membiayai karantina mandiri atau perawatannya di rumah sakit, maka pihak sponsor, Kementerian/Lembaga/BUMN yang memberikan pertimbangan izin masuk bagi WNA tersebut dapat diminta pertanggungjawaban yang dimaksud.

9. WNA dan WNI dilakukan tes RT-PCR kedua pada hari ke-7 karantina.

10. Jika hasil RT-PCR menunjukkan hasil negatif, WNA maupun WNI diperkenankan melanjutkan perjalanan dan dianjurkan untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari serta menerapkan protokol kesehatan.

11. Jika hasil RT-PCR positif maka dilakukan perawatan di rumah sakit bagi WNI dengan biaya ditanggung oleh pemerintah dan bagi WNA dengan biaya seluruhnya ditanggung mandiri.

12. Pemeriksaan RT-PCR bisa dimintakan pembanding secara tertulis dengan mengisi formulir yang telah disediakan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) atau Kementerian yang membidangi urusan kesehatan dengan biaya pemeriksaan ditanggung sendiri oleh pelaku perjalanan internasional.

13. Pemeriksaan tes pembanding RT-PCR dapat dilakukan oleh laboratoirum Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto (RSPAD), atau Rumah Sakit Bhayangkara Raden Said Sukanto (RS. Polri).

14. KKP Bandara dan Pelabuhan Laut Internasional memfasilitasi WNI atau WNA pelaku perjalanan Internasional yang membutuhkan pelayanan medis darurat saat kedatangan di Indonesia.

15. Kewajiban karantina hanya dikecualikan kepada WNA pemegang visa diplomatik dan visa dinas yang terkait dengan kunjungan resmi atau kenegaraan pejabat asing setingkat menteri keatas dan WNA yang masuk ke Indonesia melalui skema Travel Corridor Arrangement sesuai prinsip resiprositas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini