Bukan Diomeli, Begini Cara Mengatasi Kenakalan Anak Remaja

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 18 Oktober 2021 19:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 18 612 2488218 bukan-diomeli-begini-cara-mengatasi-kenakalan-anak-remaja-oobq0jg1tf.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

ANAK-ANAK yang sudah memasuki usia remaja memang cenderung melakukan kenakalan. Adalah tugas orang tua untuk memberikan edukasi pada anak-anak yang tengah mencari jati diri tersebut.

Tapi, ada kesalahan yang biasa dilakukan para orang tua dengan menganggap anaknya bisa membedakan mana yang salah dan yang benar. Akibatnya, ketika mereka melakukan kesalahan orang tua cenderung memarahi anak tersebut tanpa mendengar penjelasan mereka terlebih dahulu.

Dosen Ilmu Pendidikan Lingkungan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI) Stien Johanna Matakupan, M.Pd mengatakan, remaja ingin mencari jati diri, termasuk toleransi dengan teman kuat sekali. Jika ada teman yang salah dia langsung membela, namun lemah untuk berpikir kritis.

"Ada yang harus diperbaiki, yaitu menganalisa sesuatu untuk melihat benar atau tidaknya," ujarnya saat berbincang dengan Okezone.

Remaja

Anggota Dewan Caretakers of the Environment International itu melihat dari berbagai perspektif, yaitu perlu dibina dan diangkat pendidikannya di sekolah, mendidik nilai-nilai, sehingga dia akan melihat dan mengambil keputusan setelah mempertimbangkan dari berbagai perspektif.

"Remaja masih dalam proses aktualisasi diri dan emosinya yang belum matang. Lemahnya kita dalam pendidikan untuk membina dalam hal ini, tidak heran jika terjadi dimana-mana," ucapnya.

Berdasarkan data, Stien menjelaskan, sekolah yang anak-anaknya difasilitasi untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, dapat mengemukakan pendapat lebih banyak. Kemudian mereka juga berkontribusi dalam kegiatan sekolah dan masyarakat tinggi, sehingga angka kenakalan di sekolah itu rendah.

"Karena anaknya akan sibuk, tapi dia juga berpikir kritis. Itu yang kita lemah berpikir hal seperti itu, mengajarkan anak untuk mempertimbangkan moral, kenapa dia melakukan hal seperti itu? Seharusnya tidak melakukan hal ini, nanti bagaimana? Nah hal-hal seperti itu yang menjadi kelemahan," ungkapnya.

Psikolog Pendidikan Anak Novita Tandry menambahkan, orangtua juga harus membangun moral dan perilaku atau karakter anak, bukan hanya sekadar mengajar, seperti mengajari anak dari tidak tahu menjadi tahu atau dari tidak bisa menjadi bisa.

"Produk dari pengajaran adalah terbangunnya cara berpikir kritis dan kreatif yang berhubungan dengan intelektual. Sementara produk dari pendidikan adalah terbangunnya perilaku atau akhlak yang baik," jelas dia.

Dia membeberkan, perilaku seorang anak adalah cermin dan gambaran perilaku dari orangtuanya. Novita mencontohkan, jika orangtua sedang membawa anaknya bermain di tempat umum, mereka bisa melihat lebih jelas seperti apa perilaku anaknya.

"Maka, seperti itulah kurang lebih perilaku orangtuanya. Jadilah role model keluarga dalam setiap aspek kehidupan ini, dan berikanlah cinta kepada anak-anak kita dan anak-anak didik kita," ucap lulusan Psikologi University New South Wales (UNSW), Sydney, Australia itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini