Waspada! Kanker Payudara Triple Negatif Banyak Serang Perempuan Usia 20an

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 21 Oktober 2021 13:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 21 481 2489512 waspada-kanker-payudara-triple-negatif-banyak-serang-perempuan-usia-20an-BOjDuvZMkP.jpg Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

KANKER payudara jenis triple negatif lebih banyak menyerang perempuan milenial. Kasus termuda yang pernah ditemukan berusia 20-an.

Hal ini tentu perlu mendapat perhatian semua perempuan, karena artinya kanker payudara bukan hanya dihadapi oleh perempuan di atas 50 tahun saja. Itu kenapa, masyarakat perlu memahami betul kanker payudara triple negatif yang diketahui juga susah disembuhkan.

Kanker payudara triple negatif sendiri menyumbang 15% dari semua kasus kanker payudara dan merupakan kanker payudara invasif, yang berarti sel-sel kanker telah berkembang keluar dari area asalnya dan mulai menyebar dengan cepat ke jaringan payudara sekitarnya.

Kanker Payudara

Jenis ini diklasifikasikan sebagai triple negatif karena tidak memiliki tiga protein yang biasanya ditemukan pada sel kanker payudara: reseptor estrogen, progesteron, dan HER2.

Baca Juga : Menghitung Kemungkinan Selamat Penderita Kanker Payudara

Diterangkan Ahli Kanker Prof. Dr. dr. Ami Ashariati, SpPD-KHOM, FINASIM, kanker payudara triple negatif itu banyak dialami perempuan milenial. Deteksi dini sangat menentukan keberhasilan penyembuhan.

"Semakin dini ditemukan dan ditangani, pasien kanker payudara triple negatif memiliki kesintasan di atas 95% dalam waktu 5 tahun," katanya di webinar kesehatan yang diinisiasi Yayasan Kanker Indonesia dan MDS, Kamis (21/10/2021).

Baca Juga : Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Payudara

Bicara soal faktor risiko kanker payudara triple negatif, menurut Prof Ami, ini tidak jauh berbeda dengan faktor risiko jenis kanker payudara lainnya. Sebut saja soal genetik keturunan keluarga.

"Jika ada keluarga (kakak, adik, atau ibu) yang menderita kanker payudara, ini mempunyai kemungkinan risiko lebih tinggi sampai 4 kali lipat," tambahnya.

Selain keturunan, faktor risiko lainnya ialah:

1. Menstruasi terlalu awal, hitungannya kurang dari usia 12 tahun.

2. Punya anak di atas usia 35 tahun

3. Wanita yang sudah melahirkan, namun tidak memberikan ASI

4. Konsumsi obat hormonal estrogen jangka panjang

5. Konsumsi lemak tinggi secara berlebihan

6. Wanita menopause yang mengonsumsi obat hormonal

7. Perokok dan minum alkohol

8. Obesitas, khususnya di usia di atas 50 tahun

Jika sudah tahu faktor risikonya, penting untuk kemudian melakukan upaya pencegahan, khususnya pada kelompok faktor risiko gaya hidup. Sebab, kalau soal usia, itu sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.

Upaya pencegahan yang bisa dilakukan, saran Prof Ami, ialah melakukan SADARI sedini mungkin. SADARI di sini ialah periksa payudara sendiri.

"Sangat disarankan untuk perempuan muda melakukan SADARI setiap sebulan sekali. Jika ditemukan benjolan yang tempatnya ada di bagian atas payudara, maka disarankan segera hubungi dokter ahlinya, karena itu cukup berisiko mengarah ke benjolan kanker, terlebih jika tidak merasakan nyeri di tempat benjolan berada," ungkap Prof Ami.

Selain benjolan, tanda-tanda abnormal pada payudara yang perlu diwaspadai adalah kulit memerah, kulit berubah seperti kulit jeruk, ada seperti lesung pipi di payudara, dan puting mengeluarkan cairan yang tidak normal, khususnya pada mereka yang belum pernah menyusui.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini