Pertama di Dunia, Ahli Bedah Amerika Ganti Ginjal Manusia dengan Babi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 21 Oktober 2021 20:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 21 612 2489669 pertama-di-dunia-ahli-bedah-amerika-ganti-ginjal-manusia-dengan-babi-fj0FRMXpGA.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

GINJAL adalah salah satu bagian tubuh manusia yang tidak bisa beregenerasi secara alami. Ketika sudah rusak, maka fungsi ginjal untuk menyaring dan membuang limbah, seperti racun, garam berlebih, dan urea akan terganggu.

Oleh karena itu, mereka yang telah mengalami kerusakan ginjal hanya bisa disembuhkan dengan cara transplantasi. Tapi, mencari donor untuk transplantasi ginjal bukan perkara yang mudah loh. Karena itu para peneliti pun berusaha mensubstitusi ginjal manusia dengan lainnya.

Nah, ada kabar gembira dari para ilmuwan di Amerika, pasalnya Ahli bedah di rumah sakit New York University Langone Health berhasil melakukan transplantasi ginjal babi ke manusia. Sistem kekebalan yang ada di ginjal babi tersebut tidak menurun pasca-pemindahan ginjal.

Keberhasilan ini digadang-gadang akan menjadi barometer prosedur transplantasi penggunaan organ hewan untuk tubuh manusia di masa depan demi menyelamatkan nyawa.

Penerima donor ginjal babi adalah seorang perempuan yang kondisi medianya adalah mati otak. Sebelum ginjal ditransplantasi ke tubuh si perempuan, para ahli sudah mengubah gen ginjal babi sehingga tidak lagi menyimpan molekul yang dapat memicu penolakan secara alamiah.

Ginjal

"Keluarga pasien menyetujui proses transplantasi ginjal babi ke tubuh pasien ," terang para ilmuwan dikutip dari Reuters, Kamis (21/10/2021).

Dalam laporannya dijelaskan juga bahwa para peneliti memiliki akses ke ginjal selama tiga hari karena organ itu dipertahankan di luar tubuh, namun tetap menempel dengan pembuluh darahnya.

Dokter Robert Montgomery, yang memimpin penelitian, mengatakan bahwa hasil tes berjalan dengan lancar dengan fungsi ginjal tetap normal dengan indikator ginjal masih menghasilkan jumlah urine yang diharapkan. Artinya, ginjal babi berfungsi baik di tubuh si pasien.

Meski para peneliti tak menampik bahwa kondisi kreatinin abnormal atau situasi di mana fungsi ginjal memburuk sempat terjadi sebelum proses pemasangan ginjal babi di tubuh pasien. Namun, ginjal kembali membaik setelah transplantasi dilakukan.

"Bahkan, tidak ada tanda penolakan kuat dan cepat yang terlihat ketika ginjal babi yang tidak dimodifikasi mulai ditransplantasikan ke tubuh manusia," kata peneliti.

Dengan keberhasilan ini, United Network for Organ Sharing memiliki harapan di masa depan. Terlebih, di Amerika Serikat sendiri, hampir 107.000 orang menunggu transplantasi organ, termasuk lebih dari 90.000 untuk ginjal, yang waktu tunggunya rerata tiga hingga lima tahun lamanya.

Selama beberapa dekade para peneliti telah bekerja menggunakan organ hewan untuk transplantasi manusia sambil meminimalisir terjadinya kondisi penolakan.

Sementara itu, dalam laporan tersebut diterangkan bahwa babi yang diubah secara genetik dijuluki dengan GalSafe dikembangkan oleh anak perusahaan Revivicor United Therapeutics. Hewan-hewan itu secara alamiah ternyata kekurangan gen yang menghasilkan alpha-gal atau gula yang memicu serangan langsung dari sistem kekebalan manusia.

Pada Desember tahun lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) sudah menyetujui perubahan gen pada babi sehingga jauh lebih aman untuk dikonsumsi manusia sebagai makanan maupun obat-obatan. FDA mengatakan, produk medis yang dikembangkan dari babi GalSafe masih memerlukan persetujuan khusus dari FDA itu sendiri sebelum digunakan pada manusia.

"Ini adalah langkah maju yang penting dalam mewujudkan janji xenotransplantasi yang akan menyelamatkan ribuan nyawa setiap tahun dalam waktu yang tak terlalu lama," kata CEO United Therapeutics Martine Rothblatt dalam keterangan resminya.

"Berkat keberhasilan penelitian di NYU, prosedur yang dilakukan di sana akan menjadi 'jalan' untuk uji coba pada pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir, mungkin dalam satu atau dua tahun ke depan," kata dr Montgomery yang juga penerima transplantasi jantung.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini