Varian Delta Bermutasi Lagi, Namanya AY.4.2 Muncul di Rusia

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 22 Oktober 2021 08:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 22 612 2489921 varian-delta-bermutasi-lagi-namanya-ay-4-2-muncul-di-rusia-vxXN7sEGX1.jpeg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

MUTASI virus Covid-19 memang akan terus terjadi, selama vaksin belum tersebar merata ke seluruh daerah. Mutasi terjadi biasanya dikarenakan fungsi dasar virus yang berubah menyesuaikan tempat dan kondisi.

Salah satu mutasi yang berbahaya adala varian Delta yang disebut mudah menular. Tapi, beberapa waktu lalu Rusia telah mendeteksi sub-varian baru virus corona dari strain varian Delta.

Ilmuwan Senior, Kamil Khafizov yang bekerja di kantor pemerintah Rusia mengatakan sub-varian AY.4.2 lebih menular daripada pendahulunya. Pria yang telah mengepalai kelompok ilmiah pengawas perlindungan konsumen ini mengatakan bahwa varian AY.4.2 dari strain Delta telah terdeteksi dalam kasus terisolasi di Rusia.

“Ini kemungkinan besar akan menyebar luas di Rusia dan dunia. Kami melihat lebih banyak kasus sub-strain ini," terang Khafizov, sebagaimana dilansir The Moscow Times, Jumat (22/10/2021). 

Khafizov mengatakan AY.4.2 memiliki kemampuan 10 persen lebih menular daripada varian Delta. Pejabat kesehatan Rusia mengatakan varian Delta adalah jenis dominan dari gelombang keempat pandemi. Varian ini telah membanjiri rumah sakit negara itu di tengah tingkat vaksinasi yang sangat rendah. 

Namun, Khafizov tidak berpikir laju infeksi akan meningkat secara radikal. Sebab varian ini hanya sedikit lebih menular. Khafizov menambahkan bahwa sub-varian AY.4.2 telah menyebar secara perlahan sejak pertama kali terdeteksi pada Juli. 

Selain itu, ilmuwan juga menyatakan keyakinannya pada efektivitas vaksin Rusia terhadap varian. AY.4.2. Sebab varian jenis baru tersebut tidak begitu berbeda dengan yang lama. Sehingga tidak secara radikal mengubah kemampuan untuk mengikat antibodi.

Hanya satu dari tiga orang Rusia yang telah divaksinasi penuh terhadap Covid-19. Sementara jajak pendapat menunjukkan mayoritas penduduk masih enggan mengambil vaksin yang dikembangkan di dalam negeri. 

Peneliti mengakui bahwa mereka belum cukup menyuntikkan vaksin Covid-19 di antara orang Rusia. Padahal ketersediaan vaksinasi Covid-19 sudah banyak dan luas sejak 2020.

“Satu-satunya hal yang dapat membantu melawan varian baru adalah vaksinasi, terutama bagi mereka yang belum terinfeksi virus corona,” tambah Khafizov. 

Kabarnya Rusia mengikuti pengumuman pemerintah Inggris yang sama-sama tengah memantau varian AY.4.2. Sebab varian ini menjadi penyebab peningkatan jumlah kasus Covid-19 di negara itu. 

Peringatan keras juga muncul di Rusia. Mereka bersiap untuk menerapkan minggu tanpa bekerja yang dimulai antara 30 Oktober hingga 7 November 2021. Tujuannya untuk mengendalikan jumlah kasus kematian dan infeksi yang terlihat selama sebulan terakhir. 

Presiden Vladimir Putin telah memberi wewenang kepada para pemimpin regional untuk memperpanjang pembatasan tersebut di luar tanggal 7 November jika kasus memang tidak kunjung menurun. 

Otoritas Moskow mengatakan bahwa akan dilakukan lockdown jangka pendek di ibu kota secara ketat. Mereka akan melakukan pembatasan paling ketat di Rusia sejak musim semi 2020 jika infeksi terus meningkat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini