Sejarah Hari Polio Sedunia yang Diperingati Setiap 24 Oktober

Siska Permata Sari, Jurnalis · Minggu 24 Oktober 2021 14:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 24 481 2490868 sejarah-hari-polio-sedunia-yang-diperingati-setiap-24-oktober-UDISEcsQqo.jpg Ilustrasi Hari Polio Sedunia. (Foto: Shutterstock)

HARI Polio Sedunia selalu diperingati setiap tanggal 24 Oktober. Adanya peringatan tersebut untuk menyoroti upaya global menuju dunia bebas polio. Hari polio sedunia juga diperingati untuk menghormati kontribusi mereka yang berada di garis terdepan dalam perjuangan memberantas polio.

Dikutip dari laman CDC, Minggu (24/10/2021), polio atau poliomyelitis adalah penyakit menular yang disebabkan virus polio. Virus ini menyerang otak dan sumsum tulang belakang sehingga menyebabkan kelumpuhan.

Baca juga: Hari Polio Sedunia, Ketahui Penyebab dan Cara Mencegahnya 

Virus polio menyebar dari orang ke orang dan hanya menyerang manusia. Dalam hal ini, anak-anak sangat rentan terkena penyakit polio. Polio sendiri sejauh ini tidak memiliki obat, sehingga vaksinasi menjadi satu-satunya cara untuk melindungi anak-anak dan menghentikan penyebaran penyakit polio.

Penyebaran virus polio terjadi melalui rute faecal-oral yaitu melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi dari kotoran yang mengandung virus polio. Virus polio tersebut lalu masuk melalui mulut dan berkembang biak di usus. Bahayanya, virus ini dapat menyebar dengan cepat, terutama di daerah dengan sanitasi buruk.

Vaksinasi mencegah polio. (Foto: Shutterstock)

Gejala Polio

Mengutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, gejala-gejala polio yaitu demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan pada leher, dan nyeri pada tungkai. Satu dari 200 infeksi dapat menyebabkan kelumpuhan yang irreversible, biasanya pada tungkai. Di antara mereka yang lumpuh, 5–10 persen penderita meninggal ketika otot-otot pernapasannya berhenti bergerak.

Baca juga: Kemenkes Jelaskan Pentingnya Telehealth bagi Kesehatan di Masa Depan 

Polio di Indonesia

Indonesia sempat menyatakan bebas polio pada 2014. Namun 10 Desember 2018, Indonesia melaporkan satu kasus circulating Vaccine Derived Polio Virus (cVDPV) di Papua. Kasus mulai sakit pada 26 November 2018 dan lumpuh tanggal 27 November.

Pemerintah lalu melakukan berbagai kegiatan penanggulangan. Mulai melakukan investigasi di tempat kasus untuk mencari kasus tambahan dan kontak kasus, melakukan surveilans polio lingkungan secara rutin, melakukan surveilans aktif di semua pelayanan kesehatan Provinsi Papua, serta melakukan pelaksanaan Outbreak Respond Immunization (ORI) tanpa melihat status imunisasi polio sebelumnya. Hingga saat ini tidak ditemukan lagi kasus polio tambahan di Indonesia.

Pentingnya Imunisasi Polio

Seperti dijelaskan sebelumnya, satu-satunya cara mengentaskan virus polio adalah vaksinasi atau imunisasi. Imunisasi polio bertujuan memberikan kekebalan terhadap penyakit polio seumur hidup, terutama pada anak-anak. Ada dua jenis vaksin polio, yakni:

Baca juga: Dukung Pencegahan Osteoporosis, Wapres Ma'ruf Amin Ajak Atasi Sejak Dini 

Oral Polio Vaccine (OPV)

Vaksin ini diberikan secara oral. Saat ini yang tersedia di Indonesia adalah bivalent Oral Polio Vaccine (bOPV) yang mengandung virus Polio liar tipe 1 dan 3. bOPV merupakan peralihan dari trivalen Oral Polio Vaccine (tOPV) yang penggunaannya telah dihentikan karena WPV2 sudah tidak ditemukan di dunia. Dalam rencana program eradikasi virus Polio tahun 2030, penggunaan vaksin OPV akan dibatasi dan secara bertahap akan digantikan dengan vaksin IPV.

Baca juga: 6 Gejala Asam Urat pada Kaki, Salah Satunya Timbul Benjolan Keras 

Inactivated Polio Vaccine (IPV)

Inactivated Polio Vaccine (IPV) merupakan vaksin yang diberikan secara injeksi intramuscular. Vaksin ini mengandung virus tipe 1, 2, dan 3. Sesuai rencana program eradikasi polio, penggunaan IPV diharapkan dapat membantu percepatan pemberantasan polio di dunia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini