Negara Miskin Sulit Dapat Vaksin, WHO Sebut Pandemi Bakal Berlanjut di 2022

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 25 Oktober 2021 13:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 25 612 2491271 negara-miskin-sulit-dapat-vaksin-who-sebut-pandemi-bakal-berlanjut-di-2022-4ZX4BMgOXG.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PANDEMI Covid-19 memang sudah berlangsung hampir 2 tahun lamanya tapi belum juga berakhir. Meskipun kasus positif Covid-19 belakangan ini sudah mulai melandai, tapi bukan berarti kasus Covid-19 akan segara berakhir.

Pasalnya Indonesia telah mengalami siklus yang sama beberapa bulan lalu. Kala itu, angka positif Covid-19 memang sempat mengalami penurunan, sebelum akhirnya meledak karena adanya liburan panjang. Inilah yang mungkin terulang pada akhir tahun ini.

Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun meyakini bahwa pandemi Covid-19 akan tetap ada di 2022. Pasalnya, vaksinasi masih belum merata di beberapa negara, khususnya negara miskin.

Dr Bruce Aylward, pemimpin senior WHO, mengatakan bahwa krisis Covid-19 akan membayangi umat manusia setahun lebih lama dari yang seharusnya karena negara-negara miskin tidak mendapatkan bantuan vaksinasi yang mereka butuhkan.

Menurut aliansi amal The People's Vaccine, kurang dari 5% populasi Afrika baru menerima vaksin, dibandingkan dengan 40% dari sebagian besar negara lain. Di Inggris misalnya, hampir 66% dari seluruh populasi telah divaksinasi ganda, sedangkan di Amerika Serikat itu 55%.

Tetapi lebih dari 50 negara telah meleset dari target yang ditetapkan oleh WHO, yaitu mendapatkan 10% dari populasi yang diinokulasi.

Skema Covax yang memberikan vaksin untuk negara-negara miskin juga gagal menderita ketika produksi dihentikan di India karena negara tersebut perlu fokus pada kebutuhan mendesaknya sendiri.

"Saya dapat memberitahu Anda bahwa kami tidak berada di jalur yang benar. Kami benar-benar perlu mempercepatnya atau Anda tahu, pandemi ini akan berlangsung selama satu tahun lebih lama dari yang seharusnya," kata dr Aylward, dikutip MNC Portal.

Dia mendesak negara-negara kaya untuk berbagai dalam vaksin sehingga perusahaan farmasi dapat memprioritaskan negara-negara miskin terlebih dahulu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini