Dokter Gizi Ungkap Diet Terbaik: Tak Eliminasi Komponen Makanan

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 28 Oktober 2021 17:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 28 612 2493286 dokter-gizi-ungkap-diet-terbaik-tak-eliminasi-komponen-makanan-zl7gKUJFgJ.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

BANYAK orang memilih tidak mengonsumsi nasi ketika diet. Alasannya, nasi yang mengandung glukosa membuat karbohidrat yang membuat tubuh sulit untuk mendapatkan bentuk ideal.

Diet tidak mengonsumsi karbohidrat ini pun sukses pada beberapa orang. Meski demikian, tidak semua orang cocok untuk menerapkan diet tanpa karbohidrat ini.

Dokter spesialis gizi, dr. Patricia Gabrielle T J., M.Gizi, mengatakan mengontrol rasa kenyang dan lapar merupakan suatu proses biologis yang kompleks sehingga seseorang tidak bisa mengurangi atau meniadakan salah satu porsi makan dengan begitu saja ketika menjalankan diet.

Diet

“Kita tahu yang mengontrol kehidupan kita adalah otak, begitu juga yang mengontrol rasa lapar dan kenyang kita itu juga otak. Tapi otak ini mendapat input dari berbagai organ,” ujar Patricia seperti dilansri dari Antara.

Menurutnya, diet terbaik adalah diet yang seimbang sehingga tidak mengeliminasi atau sama sekali tidak mengonsumsi salah satu komponen makanan, terutama makronutrien. Makronutrien sendiri merupakan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia dalam jumlah banyak, seperti karbohidrat, protein, serta lemak.

Ia juga mengatakan diet yang terbaik adalah personalize nutrition karena setiap orang memiliki kebutuhan nutrisi dan pola diet yang bisa berbeda-beda. Oleh karenanya, jika diet tersebut sukses untuk seseorang, belum tentu berhasil untuk orang lain.

“Yang diinginkan tubuh kita ketika kita diet adalah sedikit dalam hal kalori, bukan sedikit dalam hal porsi saja,” tegas dokter yang mengambil studi Magister di Departemen Ilmu Gizi FKUI itu.

Memang jika porsi makanan sedikit, otomatis kalori akan berkurang. Namun Patricia mengingatkan bahwa mengontrol rasa kenyang dan lapar merupakan proses kompleks yang melibatkan otak dan beberapa organ. Sebagai contoh, indra penglihatan atau mata dapat memberikan informasi atau sinyal ke otak yang mempengaruhi terhadap rasa kenyang dan lapar

“Misalnya, ketika makan kalau porsinya sedikit, kita sudah berpikiran; ‘ah mana kenyang?’. Atau sebaliknya, kalau melihat makanan banyak tiba-tiba perut kita langsung terasa kenyang,” tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini