Pandemi Sebabkan Anak Banyak Berkutat dengan Gadget, Orangtua Perlu Ajarkan Kritis

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Sabtu 30 Oktober 2021 22:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 30 612 2494288 pandemi-sebabkan-anak-banyak-berkutat-dengan-gadget-orangtua-perlu-ajarkan-kritis-nrN8oFcKzB.jpg Ilustrasi. (Foto: Indiatimes)

RASANYA saat berkutat dengan gadget, setiap anak suka nonton vlog atau serial anak yang seru untuk mereka. Tak ada salahnya jika orangtua memberikan tontonan anak yang edukatif.

Menurut penelitian dari Neurosensum Indonesia pada Februari 2021, 87% anak-anak Indonesia sudah akrab dengan dunia media sosial sebelum menginjak usia 13 tahun. Platform media sosial yang paling banyak digunakan adalah Youtube sebesar 78%.

Anak-anak menghabiskan waktu dari 2,4 jam sampai 3,3 jam sehari di media sosial, entah itu untuk bermain game dan chatting 65%, belajar daring 48%, ataupun menonton konten film/serial 42%.

Tapi nyatanya 98% orangtua lebih khawatir terhadap tontonan negatif yang berdampak buruk pada anak-anak mereka.

Karena itu, orangtua perlu mengontrol aktivitas anak saat main gadget serta memilihkan tayangan edukatif untuk mereka.

Baca Juga: Perjuangan Anak Kembar Siam Dempet Kepala, Bertekat Melawan Takdir

 anak

Chief Education Officer Zenius Sabda PS menuturkan, selama pandemi berlangsung, anak-anak semakin membutuhkan hiburan digital. Tidak hanya mengurangi rasa bosan, namun juga bisa menunjang pengembangan kognitif dan karakternya.

"Walau menonton video, orangtua perlu memberikan nilai-nilai positif agar anam dapat belajar untuk berpikir kritis, memetakan dan menjawab masalah sehari-hari, serta membantu orang-orang di sekitar dengan bekal ilmu pengetahuan, katanya lewat keterangan tertulis.

Sabda menambahkan, orangtua bisa mencari banyak tontonan alternatif. Seperti serial Tiga Sekawan  yang menghadirkan tiga anak bernama Gika, Aksa, dan Maji yang memiliki cara berpikir, pengetahuan, dan humanisme yang unggul.

Mereka bermain dan belajar bersama, dan saling melengkapi untuk membantu memecahkan masalah sehari-hari. Seringkali, mereka berhadapan dengan karakter lain bernama Olis dan Galah yang memiliki karakter sangat berbeda dari mereka.

Interaksi dinamis yang terjadi di antara para karakter memberikan kesempatan belajar yang sangat baik untuk anak berusia 7-12 tahun. "Angle cerita begitu dekat dengan anak-anak, juga etiap episodenya menggambarkan kehidupan sehari-hari dengan berbagai hal menarik yang menyertainya."

Sehingga, orangtua pun bisa merasa lebih tenang karena konten video tersebut tidak hanya menyuguhkan sisi edukatif, tapi juga nilai-nilai sosial yang positif.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini