Share

Batasi Gadget Anak Tak Bisa Mendadak, Berapa Jam Maksimal?

Calista Angelina, Jurnalis · Senin 01 November 2021 17:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 01 612 2494970 batasi-gadget-anak-tak-bisa-mendadak-berapa-jam-maksimal-7xzm6ceL0W.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JIKA dulu anak-anak sebisa mungkin dibatasi dalam bermain gadget, tapi selama pandemi nampaknya hal tersebut sulit untuk dilakukan. Pasalnya pandemi membuat banyak orang harus berhadapan secara online, termasuk bangku sekolahan.

Berhadapan dengan gadget tentu saja memiliki dua sisi pengaruh, yakni pengaruh baik dan pengaruh buruk. Lewat gadget, kita bisa mendapatkan banyak informasi, tapi arus informasi tersebut memang sulit terbendung, sehingga tidak jarang konten ekstrem atau tidak mendidik malah lebih populer dibandingkan konten positif.

Menurut seorang dosen psikologi Univ Pancasila Dr. Ade Iva Wicaksono, Msi penting bagi orangtua untuk menerapkan disiplin atau memonitor anak sehingga konten yang masuk bisa disaring. Menurutnya, anak-anak memang harus diberikan pengertian agar paham cara yang baik bermain gadget.

Gadget

β€œHarus dilakukan sejak kecil atau usia dini sehingga anak-anak punya kesadaran bahwa mereka tidak bisa setiap saat bermain gadget. Misalnya, gadget baru boleh dipakai atau boleh nonton Youtube di hari Sabtu atau hari tertentu,” ujarnya kepada Okezone.

Hasil survei yang dilakukan oleh UNICEF juga menghimbau orangtua untuk turut serta mendisiplinkan anaknya. Disarankan untuk anak usia 2-5 tahun dibatasi maksimal 1 jam per hari, sedangkan untuk anak usia 5-8 tahun maksimal 2 jam per hari.

Dia melanjutkan, disiplin gadget manajemen memang tidak bisa mendadak, oleh karena itu harus diatur dari kecil. "Meski masih banyak orangtua yang sengaja memberi gadget agar anak tidak menganggunya. Namun, jika anak-anak sudah ditahap kecanduan atau adiksi, efeknya anak-anak jadi sulit berkembang,” jelas dia.

Ade menambahkan, dengan gadget maka interaksi interpersonal akan terganti dan membuat anak-anak sulit untuk menjalin relasi dengan teman, orangtua dan saudara.

Dilansir dari Florida Tech, pakar psikologi Jim Taylor menulis di Psychology Today, bahwa paparan teknologi mengubah pola pikir anak. Ia mengatakan, otak anak-anak masih dalam tahap perkembangan, oleh karena itu harusnya anak-anak diajari membaca.

"Saat membaca, otak anak terstimulasi untuk berimajinasi. Selain itu, berpartisipasi dalam aktivitas yang mengasah konsentrasi, fokus anak sehingga otak menjadi terlatih dan berkembang. Dibandingkan anak bermain gadget, hal itu mempersempit kemampuan berimajinasi dan membuat anak susah fokus," kata Jim.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini