Share

Konten Prank Semakin Banyak di Internet, Psikolog Minta Content Creator Ditertibkan

Calista Angelina, Okezone · Selasa 02 November 2021 02:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 01 612 2495099 konten-prank-semakin-banyak-di-internet-psikolog-minta-content-creator-ditertibkan-HNnOQu8jEV.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

BANYAK orang masih melakukan hal-hal di luar nalar demi membuat konten. Bahkan, tidak jarang konten-konten yang mereka tampilkan cenderung berbahaya untuk diri sendiri dan orang lain.

Nah, belakangan konten yang tengah ramai adalah konten prank yang tentu saja merugikan orang lain. Oleh karena itu, timbul pertanyaan apakah konten ini dibuat secara sadar atau tidak akan bahaya di baliknya.

Psikolog Dr. Ade Iva Wicaksono, sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Pancasila mengatakan, biasanya mereka yang membuat konten tersebut adalah orang yang sadar dengan tujuannya, bahkan dengan risiko yang akan diterimanya.

“Mereka sadar ketika bikin prank atau konten yang sengaja mengekspos hal tertentu, itu dilakukan secara sadar. Istilahnya mereka cari makan dari situ. One way to make a living (cari nafkah),” ujarnya kala dihubungi Okezone.

Dr. Ade Iva juga menjelaskan istilah ini disebut sebagai Problematic Social Media Use (PSMU). Hal ini terjadi ketika seseorang melihat media sosial sebagai platform utama kehidupan. "Menjadi problematik karena dengan begitu, maka jadinya muncul pemiliran, fake all pun enggak apa-apa," katanya.

"Sehingga fenomena demi konten ini bukan sesuatu yang mengherankan lagi. Ini adalah sebuah konsekuensi logis ketika seseorang mendefinisikan media sosial sebagai platform utama dalam kehidupan,” tambah dia.

Dr. Ade Iva melanjutkan, pemanfaatan media sosial berlebihan ini ujung-ujungnya menjadi penyakit. Oleh karena itu PSMU erat kaitannya dengan kesehatan mental karena mereka sudah tidak mempedulikan atau ibaratnya menjual nilai-nilai di masyarakat seperti, kesopanan, harga diri, akal sehat, rasa malu demi viral mendapat banyak likes, comment dan followers begitu.

Tidak heran, jika tidak sedikit orang yang melakukan hal nyeleneh agar followers menjadi lebih banyak dan job endorse-an melimpah. Sayangnya, mereka pun berlindung di balik kata 'hidup ini kita yang jalanin'.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Oleh karena itu, Dr. Ade Iva berharap akan ada solusi tegas dan adil untuk mendisiplinkan para konten kreator. Menurut dia, karena mereka sadar melakukannya, maka yang harus diperkuat adalah sistem hukum dan perundang-undangannya.

“Harus ada hukum dan Undang-undang yang adil tegas dan jelas untuk menertibkan konten-konten yang beredar. Memastikan adanya Undang-undang yang mengatur dan memberi hukuman untuk konten yang berbau SARA, memecah belah bangsa, menyakiti diri sendiri seperti bunuh diri (self-abuse), serta yang melecehkan nilai budaya," kata dia.

"Butuh sistem yang bikin orang jadi takut untuk bertindak berlebihan, bodoh bahkan mengancam nyawa orang lain,” tegasnya.

Adanya hukum dan UU juga secara tidak langsung bukan hanya menertibkan. Tetapi, content creator juga didorong untuk kemudian menghasilkan konten yang positif, edukatif dan bermanfaat. Oleh karena itu, perlu meningkatkan kesadaran dan memberikan penyuluhan bagi masyarakat cara memanfaatkan media sosial yang baik.

Dr Eva menyebut, terus-menerus terpapar konten yang ekstrem dan settingan maka lambat laun kita semua akan terbiasa menganggap wajar serta menyukai konten problematik tersebut. "Maka jadi semakin banyak pula konten seperti itu, pengaruh faktor permintaan (demand) dan penawaran (supply).," tukas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini