Share

Dokter Patologi Klinik Minta Penetapan Harga PCR Tak Rugikan Laboratorium

Muhammad Sukardi, Okezone · Selasa 02 November 2021 14:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 02 612 2495475 dokter-spesialis-patologi-ingin-harga-pcr-lebih-murah-lagi-CRSAXHGqBR.jpg Tes PCR. (Foto: Okezone/Heru)

PEMERINTAH menetapkan aturan PCR/antigen bagi mereka yang melakukan perjalanan darat 250 km atau lebih. Aturan ini pun mendapat pertentangan dari banyak pihak, setelah sebelum menetapkan aturan wajib PCR pada penumpang pesawat.

Pemerintah pun telah menetapkan harga maksimal PCR sebesar Rp275 ribu untuk Pulau Jawa dan Rp300 ribu di luar Pulau Jawa. Meski demikian, angka tersebut masih dianggap terlalu mahal untuk masyarakat.

Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn) mengharapkan agar pemerintah mengetuk palu terkait harga PCR tidak sembarang. Hal ini berkaitan dengan banyak aspek yang terlibat dalam tes PCR di laboratorium.

"Kualitas dan keamanan pemeriksaan tes PCR tetap menjadi prioritas kami," tegas Ketua Umum PDS PatKLIn, Prof. DR. dr. Aryati, MS., Sp.PK(K) dalam keterangan tertulis yang diterima MNC Portal, Selasa (2/11/2021).

Dalam pernyataannya, dr Aryati juga memberikan keterangan resmi mewakili PDS PatKLIn dalam surat yang disampaikan ke MNC Portal. Di dalam keterangan tersebut, dijelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menentukan harga PCR bisa ditetapkan secara adil.

Salah satunya dari unsur jenis pemeriksaan PCR itu sendiri. Ya, dalam sistem pengerjaan PCR untuk Covid-19 ada dua teknik yang dipakai yaitu sistem terbuka (open system) dan sistem tertutup (closed system). Perbedaan keduanya ada di tahap analitik.

Secara detail, berikut perbedaan di antara dua jenis pengerjaan PCR Covid-19 di laboratorium:

1. Open System

- Dapat menggunakan reagen apa saja, baik untuk ekstraksi maupun PCR, tidak perlu berasal dari produk yang sama dengan alat ekstraksi maupun alat PCR, asalkan kompatibel.

- Pengerjaan umumnya secara manual (dalam hal ini pemipetan, pencampuran reagen dengan spesimen, peletakan pada plate/well untuk reaksi).

- Membutuhkan waktu yang lama dan tingkat ketelitian yang tinggi.

2. Closed System

- Reagen yang digunakan harus berasal dari produk yang sama dengan alat ekstraksi maupun alat PCR (artinya, tertutup untuk reagen lainnya).

- Pengerjaan secara otomatis.

- Ketelitian baik (apabila alat telah ditera dengan baik).

- Waktu pengerjaan lebih singkat dibanding dengan open system, karena dikerjakan secara otomatisasi (pemipetan, pencampuran reagen dengan spesimen, peletakkan pada plate/well reaksi, dilakukan secara robotik).

"Bila hanya melihat pada sisi harga reagen, open system terkesan lebih murah dibanding closed system. Akan tetapi, kalau pada open system dihitung dengan segala beban biaya yang terdapat pada komponen dari pemeriksaan PCR, maka akan didapat beban biaya yang juga tak murah," terang dr Ariyati.

Meski begitu, PDS PatKLIn berdiri pada satu suara bahwa mendukung pemerintah menurunkan harga tes PCR. Namun, perlu mempertimbangkan dengan sangat bijaksana beberapa aspek yang terlibat di dalam tes PCR tersebut.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

"Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia sangat mengapresiasi dan mendukung program pemerintah untuk menurunkan harga tes PCR demi tercapainya target tracing yang lebih tinggi, serta diimbangi dengan program vaksinasi hingga mencapai 70% populasi," terang pernyataan resmi PDS PatKLIn.

"Semoga penetapan harga pemeriksaan yang ditetapkan pemerintah telah mempertimbangkan berbagai hal. Kami yakin pemerintah melakukan penetapan harga jual PCR secara nasional bertujuan membantu masyarakat dan juga melindungi laboratorium mandiri dan laboratorium rumah sakit, baik instansi pemerintah maupun swasta agar tetap menjalankan pemeriksaan PCR dengan baik," lanjut pernyataan resmi tersebut.

Dalam keterangannya juga PDS PatKLIn meminta kepada pemerintah untuk mempertimbangkan beberapa hal yang terjadi di dalam laboratorium. Misal terkait dengan kebutuhan reagen yang tepat; pemanfaatan APD yang tidak bisa diindahkan; honor sumber daya manusianya; biaya kebersihan; biaya listrik dan air; biaya pembuangan dan pemusnahan limbah medis; biaya pemeliharaan alat, sarana, dan prasarana lain; dan biaya pengulangan apabila hasil meragukan.

"Kami berharap peran pemerintah dalam mengendalikan harga jual reagen, melakukan perbandingan harga jual reagen di sesama negara ASEAN, mempertimbangkan penghapusan pajak untuk pembelian reagen yang masih harus diimpor," ungkap PDS PatKLIn dalam surat resminya.

"Apabila hal ini dapat diterapkan, harga pemeriksaan PCR dapat terkendali dan diharapkan dapat terjangkau oleh masyarakat, serta tidak merugikan laboratorium yang melakukan pemeriksaan," tambah pernyataan resmi perhimpunan dokter tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini