Share

9 Jenis Iritasi Kulit pada Bayi, Simak Juga Cara Mengatasinya

Tim Okezone, Jurnalis · Minggu 07 November 2021 13:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 07 481 2498005 9-jenis-iritasi-kulit-pada-bayi-simak-juga-cara-mengatasinya-sYCyRBquCb.jpg Ilustrasi jenis-jenis iritasi kulit bayi. (Foto: Shutterstock)

KULIT bayi pada umumnya lebih mudah terkena iritasi karena sifatnya lebih tipis dari orang dewasa. Kondisi seperti ini membuat kulit bayi punya daya serap tinggi, sehingga lebih mudah teriritasi bila diolesi losion atau minyak yang ternyata tidak cocok.

Ruam pada kulit bayi bisa disebabkan bawaan bayi seperti hormon, tapi ada juga ruam yang bisa dihindari seperti biang keringat dan ruam popok.

Dokter spesialis anak Citra Amelinda menjelaskan jenis-jenis iritasi kulit yang bisa terjadi pada bayi, beserta ciri-ciri dan penanganannya.

Baca juga: Paris Hilton Cantik dengan Midi Dress Putih, Anjing Kesayangannya Juga Pakai Brand Ternama 

1. Dermatitis atopic

Ciri-cirinya adalah ruam merah bulat simetris di pipi yang terasa gatal dan agak kasar bersisik. Umumnya dermatitis atopik muncul ketika anak berusia 2-3 bulan. Iritasi ini dapat muncul karena riyawat alergi, atau karena ada riwayat dermatitis atopik di keluarganya.

"Jangan khawatir, seiring bertambah usia, kulit anak semakin kuat jadi tidak terlalu rentan," jelas Citra dalam webinar kesehatan, Kamis 4 November 2021, seperti dikutip dari Antara. Bawalah anak ke dokter kulit untuk mendapatkan tatalaksana alergi.

Ilustrasi iritasi kulit bayi. (Foto: Shutterstock)

2. Biang keringat

Biang keringat terjadi akibat penumpukan sel kulit mati yang menyumbat kelenjar keringat. Ini sering terjadi pada bayi usia 1 bulan yang belum bisa banyak bergerak. Biang keringat bisa terjadi pada 6 bulan pertama setelah bayi lahir. Bayi-bayi di Indonesia rentan mengalaminya karena tinggal di negara tropis dengan kelembapan tinggi.

Biang keringat banyak ditemui di daerah lipatan kulit seperti leher, ketiak, punggung dan bagian kulit yang tertutup baju. Cara mencegahnya? Usahakan bayi tidak terlalu sering kepanasan. Sebaiknya tidak usah memakai salep agar pori-pori anak tidak tertutup.

Baca juga: Ukuran Kaki Bisa Berubah Selama Pandemi Covid-19, Ini Penyebabnya 

3. Neonatal acne

Ini adalah jerawat yang muncul di bayi saat baru lahir, umumnya ada di 30 hari pertama kehidupan, kemudian akan menghilang sendiri. Biasanya jerawat ini muncul di dahi, hidung dan pipi. Neonatal acne muncul karena hormon androhen yang berlebihan. Tanpa diobati, ini akan sembuh sendiri.

4. Milia

Bintik putih dan kuning di wajah bayi. Umumnya muncul di hidung, tetapi bisa juga menyebar ke bagian lain. Sebanyak 40-50 persen bayi mengalaminya, tapi milia akan sembuh seiring berjalannya waktu.

5. Ruam popok

Ini adalah iritasi yang paling bisa diantisipasi orangtua. Ruam popok adalah semua keluhan kulit di area popok. Ruam popok terlihat jelas di usia 2-4 pekan, kemudian perlahan menghilang. Iritasi yang disebut juga dermatitis kontak umumnya sembuh sendiri dalam waktu tiga hari, kecuali terinfeksi bakteri atau jamur. Ruam popok disebabkan area kulit di sekitar popok basah, sehingga "benteng" kulit mudah iritasi dan terinfeksi dalam 48-72 jam.

Baca juga: 6 Bahan Alami yang Ampuh Atasi Wajah Berminyak, Mudah Digunakan Lho 

6. Pitiriasis alba

Berupa bercak putih ukuran 2-3 cm di muka, tetapi ini bukanlah panu. Ini sering ditemui pada anak usia di atas tiga tahun yang disebabkan oleh sinar matahari atau alergi. Ketika anak sudah lebih besar, bercak putih ini akan menghilang.

7. Craddle cap

Ini adalah kerak di kepala bayi akibat produksi kelenjar minyak berlebihan di kepala, membuat sel kulit mati tetap menempel. Bentuknya serupa ketombe, tapi keras, bersisik tebal dan menempel di tempurung kepala. Kerak ini akan sembuh sendiri ketika bayi berusia 6-12 bulan. Cara mengatasinya, pijat lembut kepala dengan minyak kelapa agar sisiknya berubah jadi halus dan bisa copot, lalu keramas.

8. Cutis marmorata

Garis-garis biru seperti jala ikan pada seluruh tubuh bayi. Ini terlihat jelas di usia 2-4 minggu dan perlahan menghilang. Biasanya ini sering dijumpai pada bayi prematur karena kulitnya sangat tipis.

Baca juga: 9 Hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Memulai Bekerja dari Kantor 

9. Kaligata (biduran)

Kaligata bisa disebabkan oleh alergi makanan, debu, hingga cuaca. Kaligata punya ciri-ciri bentol dan gatal yang tak beraturan di tubuh. Makanan yang bisa menyebabkan biduran bisa meliputi susu sapi, kedelai, telur, seafood, ikan, gandum hingga kacang. Jika ada anggota keluarga yang sering mengalaminya, ada kemungkinan kaligata dapat terjadi pada bayi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini