Sering Pipis di Malam Hari? Dokter: Curigai Penyakit Kanker Prostat

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 17 November 2021 10:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 17 481 2503020 sering-pipis-di-malam-hari-dokter-curigai-penyakit-kanker-prostat-Aa2b6QEATL.jpeg Ilustrasi (Foto : Menshealth)

KANKER prostat menjadi masalah yang tak bisa diabaikan pada pria. Semakin bertambahnya usia, risiko penyakit ini semakin tinggi.

Berdasarkan American Institute for Cancer Research, kanker prostat adalah jenis kanker kedua yang paling umum terjadi pada pria di atas 60 tahun. Namun, berjalannya waktu, kanker prostat juga kini dapat ditemukan pada pria berusia 15 hingga 40 tahun.

Di Indonesia, Global Cancer Statistics menunjukkan bahwa kanker prostat adalah kanker kelima yang paling umum terjadi pada pria Indonesia. Data dari International Agency for Research on Cancer dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), memaparkan bahwa jumlah kasus baru di Indonesia sebanyak 13.563 pada 2020.

Pipis

Lebih jauh Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Prof. Dr. dr. Soehartati Argadikoesoema Gondhowiardjo, Sp.Rad (K), Onk.Rad., menjelaskan bahwa kanker prostat adalah suatu jenis kanker yang berkembang di area kelenjar prostat.

"Kanker prostat mulai muncul ketika sel-sel yang berada di dalam kelenjar prostat tumbuh di luar kendali. Kelenjar prostat hanya ditemukan pada pria dan kelenjar itu memproduksi cairan yang merupakan bagian dari air mani," terang Prof Soehartati, dalam keterangan resmi yang diperoleh MNC Portal, Rabu (17/11/2021).

Baca Juga : SBY Idap Kanker Prostat, Yuk Pelajari 5 Cara Mencegahnya

Ia melanjutkan, ada beberapa jenis kanker prostat, misalnya adenocarcinomas, sel carcinomas kecil, tumor neuroendocrine, sel transisi carcinomas, dan sarcomas. "Kebanyakan kasus kanker prostat berasal dari jenis adenocarcinomas, semenhara jenis lainnya terbilang langka," sambungnya.

Baca Juga : Waspada Komplikasi Kanker Prostat, dari Mengompol hingga Tidak Bisa Ereksi

Bicara soal gejala kanker prostat, Prof Soehartati yang merupakan Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI) dan Varian Medical Systems, menuturkan bahwa pada stadium awal, kanker prostat tidak menunjukan gejala.

"Pada stadium awal, kebanyakan kasus kanker prostat itu tidak bergejala. Ini yang kemudian membuat pasien datang sudah dalam kondisi stadium lanjut," ungkapnya.

Sebab, pada stadium lanjut kanker prostat, gejala mulai terlihat dan ini berkaitan dengan masalah urinasi. "Jadi, gejala yang muncul pada stadium lanjut bisa berupa buang air kecil yang dirasakan lebih lambat, lemah, atau lebih sering pipis khususnya pada malam hari," terang Prof Soehartati.

Karena tidak dapat dideteksi dini berdasarkan gejala atau keluhan yang dialami, Prof Soehartati menyarankankan bagi setiap pria untuk mengerti bahwa menemukan kanker prostat sedini mungkin akan sangat berarti. Ini dapat membantu mereka mendapatkan penanganan lebih baik.

"Oleh karena itu, lingkungan sekitar yang mendukung juga sangat berpengaruh terhadap kecenderungan para pria, khususnya yang memiliki potensi tinggi terkena kanker prostat, untuk mencari bantuan profesional agar dapat dideteksi sedini mungkin," tambahnya.

Deteksi kanker prostat yang paling umum adalah Prostate Specific Antigen (PSA). Skrining kanker prostat direkomendasikan mulai dari usia 40 tahun.

"Tes PSA itu dilakukan untuk mengukur level antigen spesifik prostat dalam darah, karena sel kanker cenderung memproduksi PSA lebih banyak. Karena itu, ketika adanya lonjakan level PSA, dicurigai pria tersebut memiliki risiko ke arah kanker prostat," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini