Dokter: Lahir Prematur Tak Hanya Berdampak ke Bayi, Tapi Ibunya Juga

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 17 November 2021 16:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 17 481 2503335 dokter-lahir-prematur-tak-hanya-berdampak-ke-bayi-tapi-ibunya-juga-hJYfKup9H9.jpg Ibu hamil (Foto: Hindustan times)

KELAHIRAN prematur selalu dikaitkan dengan masalah kesehatan jangka panjang pada bayi. Padahal, jika bicara kelahiran prematur, ada efek negatif juga yang dialami ibunya.

Ya, ibu yang melahirkan prematur mengalami beberapa kondisi buruk, bahkan bukan hanya masalah fisik, tetapi juga mentalnya.

 bayi prematur

"Kebanyakan kasus, ibu dengan kelahiran prematur mengalami stres pasca-persalinan," kata Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fenomaternal Dr.dr. Rima Irwinda, SpOG(K), dalam webinar 'Tantangan dan Penanganan Kesehatan bagi Ibu dan Anak Kelahiran Prematur' dalam rangka Hari Prematur Sedunia, Rabu (17/11/2021).

Stres yang dialami ibu yang melahirkan prematur juga berkaitan dengan rasa cemas berlebihan atau anxiety yang berhubungan dengan depresi. Beberapa kasus, sambung dr Rima, ada juga ibu yang alami 'post-traumatic stress' hingga mengalami masalah 'bonding' dengan bayinya.

Bila pada bayi, kelahiran prematur dikaitkan dengan masalah jangka panjang seperti diabetes. Masalah ini muncul salah satunya karena anggapan yang keliru pada orangtua bahwa bayi prematur harus banyak bahkan berlebihan menerima nutrisi.

"Selain itu, diabetes juga menjadi risiko bayi prematur karena adanya gangguan metabolisme di tubuh bayi prematur yang dalam proses di kandungan belum selesai pembentukannya," tambah dr Rima.

Lebih lanjut, Dokter Spesialis Anak Konsultan Neonatalogi Dr. dr. Putri Maharani TM, SpA(K), menjelaskan banwa kesulitan utama dalam kasus bayi prematur adalah perawatan si anak. Menurutnya, anak lahir prematur mempunyai kesulitan di luar rahim akibat ketidakmatangan sistem organ tubuhnya seperti paru-paru, jantung, ginjal, hati, dan sistem pencernaan.

"Upaya meminimalisir efek negatif selama perawatan bisa dengan menjaga agar BBLR berada dalam kondisi yang optimal untuk tumbuh dan berkembang, salah satunya menerapkan developmental care," terang dr Putri.

Prinsip developmental care ini meliputi keterlibatan keluarga, meminimalkan stres, dan mengoptimalkan pemberkan ASI sebagaj nutrisi terbaik bagi bayi. "Pemantauan berkala, perawatan, dan penanganan khusus menjadi faktor penting bagi tumbuh kembang anak kelahiran prematur," tambahnya.

Dokter Putri melanjutkan, kenyamanan yang dirasakan anak prematur dapat meningkatkan saturasi oksigennya. Jadi, anak lahir prematur yang mendapatkan intervensi kenyamanan secara kondusif dapat memaksimalkan enerrgi yang dimiliki untuk mendukung tumbuh kembangnya, sehingga dapat lebih cepat dalam mencapai kondisi kesehatan yang optimal.

"Faktor kenyamanan dapat dilakukan dengan membangun bonding antara orangtua dengan si kecil, dan mempertahankannya sesuai usia pertumbuhan anak," tambah dr Putri.

Menurut riset Badan Kesehatan Dunia (WHO), 1 dari 10 anak lahir prematur. Setiap tahun diperkirakan 15 juta anak di seluruh dunia lahir sebelum waktunya atau lebih dari 3 minggu sebelumnya.

 Baca juga: Bocah di Alabama Dinobatkan Sebagai Bayi Paling Prematur Sedunia

Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2019, menunjukkan bahwa 84 persen kematian pada anak baru lahir disebabkan oleh kelahiran prematur. Diketahui juga bahwa semakin pendek masa kehamilan, semakin besar risiko kematian dan morbiditas.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini