Penyebab Resistensi Antimikroba yang Diprediksi Akibatkan 10 Juta Orang Meninggal di 2050

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 18 November 2021 12:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 18 481 2503692 penyebab-resistensi-antimikroba-yang-diprediksi-akibatkan-10-juta-orang-meninggal-di-2050-4PzUBgnwa9.jpeg Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)

ANTIMICROBIAL Resistance (AMR) atau biasa dikenal dengan resistensi antimikroba masih menjadi tantangan besar dunia hingga saat ini. Menurut data WHO, saat ini kematian akibat AMR sebanyak 700 ribu orang per tahun. Diprediksi pada 2050, kematian akibat AMR bisa meningkat hingga 10 juta orang per tahunnya.

Perlu dicatat bahwa distribusi kematian akibat AMR ini paling banyak terdapat di Asia dengan 4,730 dan Afrika dengan 4,150 juta kematian. Sisanya ditempati oleh Amerika Latin sebesar 392 ribu, Eropa 390 ribu, Amerika Utara 317 ribu dan Oceania dengan 22 ribu kematian.

Resisten Antimikroba

Menurut WHO, AMR adalah resistensi obat antimikroba adalah keadaan saat bakteri, virus, jamur, dan parasit mengalami perubahan seiring dengan waktu, sehingga tidak lagi merespons obat-obatan yang dirancang untuk membunuh mikroba-mikroba tersebut. Hal ini akan sangat serius apabila mereka mengalami infeksi mikroba.

Baca Juga : Kasus Resistensi Antimikroba Meningkat, Ini Penyebabnya

Dalam sesi jumpa pers secara virtual yang disiarkan di channel YouTube Kementerian Kesehatan, Kamis (18/11/2021), Direktur Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan, dr. Kalsum Komaryani, MPPM menjelaskan bahwa AMR juga dapat menimbulkan dampak ekonom.

“AMR dapat menyebabkan penurunan Gross Domestic Product (GDP) sebesar 2 - 3,5 persen. Yang pada akhirnya bisa membebani dunia sampai dengan USD100 triliun,” terang dr. Yani.

Baca Juga : Waspada Resistensi Antimikroba yang Bikin Pengobatan Jadi Tak Efektif

Adapun penyebab terjadinya AMR jika ditinjau dari segi kesehatan disebabkan oleh bermacam-macam hal, diantaranya:

1. Tidak ada indikasi

2. Indikasi tidak tepat

3. Pemilihan antimikroba tidak tepat

4. Dosis tidak tepat

5. Tidak mempertimbangkan parameter Pharmacokinetics (PK) dan Pharmacodynamics (PD)

6. Rute tidak tepat

7. Saat pemberian dan lamanya tidak tepat

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini