Kenali Bahaya Gaya Hidup Rebahan, Makin Populer saat Pandemi Covid-19

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 18 November 2021 13:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 18 481 2503722 kenali-bahaya-gaya-hidup-rebahan-makin-populer-saat-pandemi-covid-19-ZpsUvQ6f6n.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PANDEMI Covid-19 memang membuat orang jarang keluar rumah atau menghabiskan waktu di luar rumah. Akibatnya, banyak orang memilih untuk berada di rumah dan tidur-tiduran saja seharian.

Ditambah lagi, belanja online yang semakin memudahkan orang mendapatkan seseutau tanpa harus banyak berusaha. Prilaku 'pemalas' ini memang kerap disebut sebagai Gaya hidup rebahan.

Bahanya, gaya hidup rebahan ini memiliki risiko kesehatan lebih tinggi dibandingkan dengan gaya hidup aktif. Bahkan manusia dengan gaya hidup rebahan berpotensi meningkatkan keparahannya ketika terinfeksi Covid-19.

"Jadi, orang yang secara rutin olahraga, risiko keparahan covidnya lebih rendah, " kata dr. Andhika Raspati, Sp.KO, dokter spesialis kedokteran olah raga dalam seminar online “Kesehatan Fisik dan Mental di Masa Pandemi Covid 19” dalam keterangan tertulisnya.

Andhika mengungkapkan latihan fisik tidak kalah penting dari 3M. Pencegahan covid dalam situasi pandemi, seringkali hanya berfokus pada protokol kesehatan 3M. Anggapan ini perlu diluruskan, karena dalam ilmu kesehatan terdapat 4 (empat) pilar untuk hidup sehat. Keempat pilar itu adalah aktivitas fisik, keseimbangan nutrisi, kecukupan istirahat, dan kesehatan mental.

Dokter Andhika mengatakan, terdapat beberapa risiko kesehatan bagi kaum rebahan. Risiko Kesehatan itu antara lain: kelemahan otot, pengeroposan tulang, penurunan daya tahan tubuh, gangguan sirkulasi darah, serta gangguan metabolisme lemak dan gula.

Kaum rebahan juga berpotensi mengalami gangguan keseimbangan hormonal, serta lebih mudah menjadi gemuk. Risiko di atas juga dapat berujung pada penyakit sindrom metabolik seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, dan hipertensi.

Oleh karena itu, untuk menghindari risiko penyakit tersebut, kaum rebahan harus mengubah gaya hidupnya. Menurut Dhika, kaum rebahan harus beralih gaya hidup, menuju aktivitas fisik.

Aktivitas fisiknya bisa beragam, terdapat beberapa alternatif aktivitas fisik agar tubuh tetap sehat dan bugar yang bisa dikerjakan dalam pembatasan aktivitas sosial di masa pandemi. “Yang diketahui masyarakat tentang aktivitas fisik, termasuk di dalamnya adalah menyapu dan mengepel”, kata dr. Dhika.

Aktivitas fisik, kata Dhika, adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas fisik terbagi menjadi dua macam yaitu non exercise physical activity (NEPA), exercise dan sport. Setiap jenis aktivitas fisik tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.

Aktivitas fisik jenis NEPA adalah Gerakan aktivitas ini tidak terstruktur dan tidak dapat terukur (melalui denyut nadi), dapat mengurangi kalori harian. Contohnya adalah menyapu dan mengepel.

Sedangkan Exercise, adalah gerakan yang terstruktur dan terukur, dapat mengurangi kalori, dan meningkatkan kebugaran tubuh. Contoh dari aktivitas ini adalah jogging, lari atau bersepeda. Aktifitas sport adalah aktivitas fisik yang memiliki aturan main, goals, dan dapat dikompetisikan, misalnya futsal, basket.

Dari ketiga jenis di atas, yang paling dibutuhkan dan paling tepat untuk dilakukan di masa pandemi untuk meningkatkan kebugaran dan imunitas adalah exercise. Sedangkan sport, karena tidak dapat dilakukan secara sendiri, cenderung berpotensi pada terjadinya penularan Covid 19.

Struktur dan ukuran yang biasa digunakan dalam exercise adalah FIIT, akronim dari frequency (seberapa rutin exercise dilakukan), intensity (keterukuran melalui denyut nadi), time (durasi waktu latihan), dan type (jenis latihan yang dilakukan).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini