Penjelasan Pakar Soal Varian Delta Sebabkan Ledakan Kasus di Singapura

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 18 November 2021 16:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 18 481 2503879 penjelasan-pakar-soal-varian-delta-sebabkan-ledakan-kasus-di-singapura-lIPanf2CcR.jpeg Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)

VARIAN Delta telah menyebabkan kekacauan di dunia. Banyak kasus Covid-19 yang meledak karena hadirnya varian Delta. Saat ini varian Delta sudah beranak-pinak menjadi banyak sub varian baru seperti AY.4, AY.4.2, AY.23, dan AY.24 yang semakin membingungkan masyarakat.

Munculnya sub varian baru dari suatu virus ini disebabkan oleh mutasi genetik. Semakin besar suatu varian menginfeksi seseorang, maka akan semakin besar pula potensi terjadinya mutasi.

Varian Delta

Berdasarkan penjelasan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin beberapa waktu lalu, bahwa varian Delta AY.4, AY.23, dan AY.24 sudah ada di Indonesia. Hanya saja varian delta AY.4.2 masih belum terdeteksi keberadaanya di Indonesia.

Baca Juga : Menkes Umumkan Varian Delta Sudah Masuk Indonesia, Termasuk AY.4.2?

Pakar Kesehatan sekaligus Dokter Relawan Covid-19, dr. Muhamad Fajri Adda'i, menjelaskan melalui unggahan video di akun media sosial pribadinya @dr.fajriaddai, Kamis (18/11/2021), bahwa varian Delta AY.23 yang menyebabkan kasus Covid-19 di Indonesia meningkat pesat beberapa bulan lalu.

"Varian tersebut adalah sub dari varian Delta yang sebelumnya di Indonesia, pada Juli dan Agustus kemarin meledak udah tinggi-tingginya kan. Itu karena varian Delta sub yang tersebut," kata dr. Fajri dalam penjelasannya.

Baca Juga : Sebabkan Kenaikan Kasus Covid-19, Menkes Khawatirkan Varian Delta AY.4.2

Lebih lanjut, dr. Fajri menjelaskan bahwa varian Delta ini bukanlah sesuatu yang baru sebab sempat menyebabkan ledakan kasus di Indonesia. Kini beberapa negara di dunia sedang mengalami ledakan kasus Covid-19 akibat varian tersebut.

"Sekarang, negara-negara lain lagi gantian meledak, seperti: Singapura, Malaysia sekarang di Eropa lagi begitu. Kemarin Amerika Serikat (AS) juga begitu. Sehari saja sampai 150 ribu orang di rawat inap. Sekarang di Jerman sehari 50 ribu orang," lanjut dr. Fajri.

Perlu diketahui bahwa varian Delta tersebut sudah terbukti memiliki kemampuan 70 persen lebih cepat menular dibandingkan dengan varian Alpha yang pertama kali ditemukan di Inggris. Oleh sebab itu dr. Fajri mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada agar lonjakan kasus tidak terjadi kembali di kemudian hari.

"Tetap jaga protokol kesehatan (prokes) dan tetap hati-hati. Boleh tetap beraktivitas tapi jangan sampai meledak lagi," tuntasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini