Share

Resistensi Antimikroba Sebabkan Banyak Kematian, Pemerintah Buat 6 Strategi

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Okezone · Kamis 18 November 2021 14:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 18 612 2503763 resistensi-antimikroba-sebabkan-banyak-kematian-pemerintah-buat-6-strategi-fhcHtZN57v.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

LAYAKNYA mahluk hidup, penyakit pun juga bisa bermutasi sehingga dapat bertahan terhadap obat. Biasanya penyakit akan terjadi karena adanya virus, bakteri, jamur atau parasit yang masuk ke tubuh.

Sayangnya, penggunaan obat seperti antibiotik yang tidak tepat, malah membuat penyakit tersebut kebal. Kondisi tersebut disebut dengan Antimicrobial Resistance (AMR) ketika obat-obatan yang dirancang untuk membunuh mikroba-mikroba tersebut tidak lagi mempan.

Direktur Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan, dr. Kalsum Komaryani, MPPM, menjelaskan bahwa AMR atau biasa dikenal dengan resistansi antimikroba masih menjadi penyumbang angka kematian yang besar di dunia.

Obat

Saat ini kematian akibat AMR sebanyak 700 ribu orang per tahun. Diprediksi pada 2050, kematian akibat AMR bisa meningkat hingga 10 juta orang per tahunnya.

“Resistansi antimikroba merupakan ancaman global karena dapat menurunkan mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien, meningkatkan biaya pelayanan kesehatan dan meningkatkan angka kesakitan dan kematian akibat infeksi,” kata dr. Yani, dalam sesi jumpa pers secara virtual yang disiarkan di channel YouTube Kementerian Kesehatan, Kamis (18/11/2021).

Dia melanjutkan, upaya pengendalian resistansi antimikroba dilaksanakan dengan pendekatan multi sektoral (One Health).

Baca Juga: Wujudkan Indonesia Sehat 2025, Lifebuoy dan Halodoc Berkolaborasi Berikan Akses Layanan Kesehatan Gratis

Adapun strategi pengendalian resistansi antimikroba yang saat ini sudah diterapkan di Indonesia sesuai dengan arahan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di antaranya:

1. Terus menerus meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap resistansi antimikroba.

Untuk upaya tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memiliki program KIE, dan Gema Cermat minum obat.

2. Peningkatan pengetahuan dan bukti ilmiah.

Saat ini Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System (GLASS) merupakan surveilans yang dilakukan di beberapa negara dengan metodologi yang sama. Di Indonesia ada 20 rumah sakit yang terpilih untuk melakukan surveilans antimikroba.

3. Pengurangan infeksi

Harus terus menerus mencegah terjadinya infeksi supaya tidak salah mengonsumsi antimikroba yang bisa menimbulkan resistansi. Jadi harus menjaga sanitasi lingkungan, harus selalu bersih dan program pencegahan penyakit infeksi (PPI) yang diusung di semua fasilitas pelayanan kesehatan

4. Optimalisasi, pengawasan, dan penerapan sanksi pelanggaran peredaran dan penggunaan antimikroba tidak sesuai standar.

5. Peningkatan investasi, dengan penemuan obat dan metode diagnostik dan vaksin baru maka diharapkan bisa mengatasi masalah resistansi tersebut.

6. Tata kelola dan koordinasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini