Varian Delta Plus AY.4.2 Serang Inggris dan Eropa, Waspadai Gejalanya!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 23 November 2021 09:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 23 481 2505946 varian-delta-plus-ay-4-2-serang-inggris-dan-eropa-waspadai-gejalanya-F9p2cfrzFT.jpeg Ilustrasi (Foto : Independent)

INGGRIS dan beberapa negara Eropa lainnya diserang varian Delta Plus AY.4.2. Varian Delta tersebut menyumbang sekitar 12 persen dari sampel yang dikumpulkan peneliti hingga 5 November 2021.

Varian Delta Plus AY.4.2 diperkirakan 10 hingga 15 persen lebih mudah menular daripada varian Delta lainnya dan itu yang membuat Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya kini kelimpungan. Bahkan, menurut laporan The Mirror, Inggris melaporkan varian ini mendominasi dalam beberapa bulan terakhir.

Hal yang menjadi perhatian Inggris sekarang adalah fakta bahwa AY.4.2 tidak begitu menunjukkan gejala. Seperti dilaporkan laman My London, serangan AY.4.2 sangat kecil kemungkinan menyebabkan kasus bergejala, dibandingkan varian sebelumnya.

Varian Delta

"Dua per tiga atau 66,7% dari mereka yang terpapar AY.4.2 dalam penelitian ini bergejala, berbanding dengan 76,4% pasien terpapar varian Delta AY.4," ungkap laporan tersebut, dikutip MNC Portal, Selasa (23/11/2021).

Baca Juga : Menkes Umumkan Varian Delta Sudah Masuk Indonesia, Termasuk AY.4.2?

Gejala yang banyak dilaporkan pasien AY.4.2 amat klasik, seperti demam, batuk terus-menerus, pun kehilangan kemampuan mengecap rasa atau mencium bau.

"Kasus AY.4.2 adalah ancaman serius karena mereka yang terpapar tidak semuanya pasti bergejala, dan jika pasien harus menunggu bergejala dulu akan memungkinkan virus menyebar lebih banyak ke orang lain," kata Christl Donnelly, seorang profesor epidemiologi statistik di Imperial College London.

Baca Juga : Epidemiolog UGM Perkirakan 80 Persen Penduduk Indonesia Telah Terinfeksi Varian Delta

Dengan kondisi tersebut, sambung Christl, amat penting untuk pemerintah menggiatkan testing dan tracing di masyarakat. "Memastikan semua yang kontak erat dites meski tanpa gejala adalah upaya yang harus dilakukan sekarang untuk mengurangi transmisi virus," tambahnya.

Sementara itu, para ilmuwan sangat berharap agar penyuntikan vaksin booster segera dilakukan demi memutus rantai penyebaran virus. Selain itu, pembatasan perjalanan juga diperlukan dan ini sudah dilakukan pada Italia, Swiss, Kroasia, dan Belanda.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini