Ini Deretan Orang Berisiko Kanker Paru, Segera Deteksi Dini!

Antara, Jurnalis · Selasa 23 November 2021 16:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 23 481 2506257 ini-deretan-orang-berisiko-kanker-paru-segera-deteksi-dini-4NIZNXzEqX.jpg Pekerja tambang (Foto: Business insider)

DOKTER Spesialis Paru Konsultan Onkologi dan Anggota Pokja Onkologi Toraks PDPI, Dr. Sita Laksmi Andarini, PhD, Sp.P(K) mengatakan, orang-orang yang berisiko tinggi terkena kanker paru sebaiknya segera melakukan pemeriksaan skrining atau deteksi dini guna mencegah kejadian kanker stadium lanjut.

“Bulan ini bertepatan dengan Lung Cancer Awareness Month. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk peduli kanker paru, artinya ada tindakan skrining dan tindakan deteksi dini kanker paru,” kata Sita dalam webinar “Urgensi Pasien Kanker Paru Terhadap Akses Pengobatan Inovatif” belum lama ini.

 kanker paru

Dokter Sita menjelaskan, orang berisiko tinggi terkena kanker paru di antaranya laki-laki di atas 45 tahun, perokok maupun yang sudah berhenti merokok kurang dari 10 tahun, perokok pasif, memiliki riwayat genetik, serta riwayat fibrosis paru.

Selain itu, para pekerja di pertambangan, pabrik semen, pabrik kaca, atau jenis pekerjaan lain yang berpotensi menghirup paparan silika juga perlu memeriksakan kondisi paru-parunya.

“Kalau belum ada gejala maka skrining atau periksakan diri. Kalau ada gejala seperti batuk, batuk darah, nyeri dada, sesak nafas, yang belum membaik dalam dua minggu, segera rujuk untuk CT scan torax untuk deteksi dini kanker paru,” ujarnya.

Sita juga mengimbau agar pasien tetap waspada apabila hasil pemeriksaan menunjukkan negatif tuberculosis, sebab kemungkinan kanker paru masih tetap ada.

“Deteksi dini kanker paru juga harus bersamaan dengan deteksi tuberculosis supaya dapat ditemukan lebih awal dan wajib dirujuk untuk dilakukan CT scan,” ujarnya.

Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr. Erlang Samoedro, Sp.P(K), FISR mengatakan, hingga saat ini tingkat skrining untuk deteksi dini di Indonesia belum merata dan menyeluruh karena masih terpusat di kota-kota besar dan belum menyentuh ke daerah terpencil.

“Beberapa modalitas seperti kemoterapi, terapi target, radioterapi bahkan hanya ada di kota-kota besar yang mungkin akses masyarakat yang di daerah perifer agak sulit,” ujarnya.

 Baca juga: Verawaty Fajrin Meninggal, Ini 3 Penyebab Kanker Paru yang Patut Diwaspadai

Elang juga menggaris bawahi pentingnya pemerataan akses pengobatan kanker paru mengingat saat ini hanya penderita kanker paru tipe EGFR (Epidermal Growth Factor Receptor) positif saja yang masuk dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini