Cekcok Istri Jendral dengan Ibu Arteria Dahlan Viral, Kenapa Kalau Marah Bawa-Bawa Jabatan?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 24 November 2021 11:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 24 612 2506610 cekcok-istri-jendral-dengan-ibu-arteria-dahlan-viral-kenapa-kalau-marah-bawa-bawa-jabatan-9Yv27Y5VGY.jpg Cekcok Anggita Pasaribu dengan ibu Arteria Dahlan (Foto: Twitter dan Dok.Okezone)

ANGGITA Pasaribu jadi bulan-bulanan publik. Ya, perempuan yang wajahnya terpampang nyata di video viral marah-marah kepada ibu Arteria Dahlan itu mulai terungkap identitas aslinya.

Jika di video viral dia mengaku sebagai anak jenderal TNI bintang 3, faktanya Anggita Pasaribu adalah istri dari Brigjen Muhammad Zamroni, mantan Dandim Jakarta Pusat. Ini yang kemudian membuat netizen semakin geram selain aksinya membentak wanita tua di depan banyak orang.

Beberapa netizen menyayangkan bahwa Anggita Pasaribu bertindak tidak sopan kepada wanita tua. Nada tinggi saat cekcok kemudian melontarkan kalimat yang ternyata keliru, adalah hal yang semakin membuat netizen kecewa. Terlebih, Anggita Pasaribu alias Rindu saat marah membawa-bawa jabatan dan gelar yang ada di kehidupannya.

Anggita Pasaribu

Hal ini membuat MNC Portal tertarik untuk mengupasnya lebih dalam. Ya, mengapa seseorang yang memiliki gelar atau jabatan, atau keluarga dari orang yang memiliki gelar atau jabatan, mengutarakan status tersebut? Apa motif di balik itu?

Baca Juga : Kodam Jaya Harap Kasus Cekcok Wanita dengan Ibunda Arteria Dahlan Berakhir Damai

Psikolog Klinis Meity Arianty menjelaskan bahwa secara general, orang yang bawa-bawa gelar dan jabatan saat marah itu ingin diakui dan dipandang tinggi oleh orang lain, terlebih saat dirinya marah.

"Manusia itu kecenderungannya ingin diterima, dihargai, dan ingin diakui, sehingga manusia akan cenderung melakukan segala cara untuk mendapatkan itu termasuk saat marah-marah," katanya pada MNC Portal melalui pesan singkat, Rabu (24/11/2021).

Baca Juga : 5 Fakta Mencengangkan Istri Jenderal yang Caci Maki Ibu Arteria Dahlan

Ia melanjutkan, mengeluarkan embel-embel jabatan atau gelar dilakukan orang-orang yang ingin dihargai dan orang-orang yang biasanya terjepit dalam situasi tidak nyaman atau ingin 'meloloskan diri' dari situasi yg tidak nyaman.

"Saya menilai, mereka yang bawa-bawa gelar dan jabatan adalah orang yang kurang dapat mengontrol dirinya sehingga refleks melakukan itu untuk mendapatkan pengakuan atau meloloskan diri dari situasi yang tidak menguntungkannya," terangnya.

Dengan begitu, sambung Mei, lawan akan merasa takut, hormat, menghargai, dan mengikuti keinginannya. "Padahal orang lain menghormati dan menghargai kita karena attitude, bukan karena embel-embel nama dan jabatan tertentu," lanjutnya.

Menurut Mei, orang yang suka bawa-bawa jabatan dan gelar itu sebenarnya kasihan. "Kenapa? Karena mungkin dia butuh dilayani, butuh diterima, atau butuh penghargaan tetapi dengan cara yang kurang etis," kata dia.

Mei melanjutkan, pada beberapa kasus, orang yang bawa-bawa gelar dan jabatan saat marah itu melakukan hal tersebut secara sadar dan spontan. Hal ini terkait juga dengan kondisi otak saat marah yang biasanya tidak dapat berpikir jernih.

"Itu kenapa, saya selalu percaya bahwa marah bukanlah jalan menyelesaikan masalah. Marah malah menciptakan masalah baru dan ini hukumnya mutlak," katanya.

"Dan soal melontarkan gelar dan jabatan, pada beberapa kasus, pelaku melakukannya dengan sadar dan spontan. Tapi, sejatinya kita sebagai manusia bisa memilih mau meneruskan spontanitas itu atau menyudahinya dengan tarik napas dan mengaku kekeliruan," tambah Mei.

"Sayangnya, banyak manusia mempertahankan egonya dan ingin menang dari orang lain. Ini yang kemudian membuat refleks spontan yang keluar saat marah tetap dilanjutkan, bukan diperbaiki," terangnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini