Anak-Anak yang Lahir saat Pandemi Covid-19 Bakal Jadi Antisosial?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 25 November 2021 15:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 25 612 2507315 anak-anak-yang-lahir-saat-pandemi-covid-19-bakal-jadi-antisosial-frZw3vbba3.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SELAMA pandemi Covid-19 memang angka kehamilan mengalami peningkatan. Pasalnya, penyuluhan Keluarga Berencana (KB) memang sangat sulit dilakukan lantaran adanya pembatasan berkegiatan.

Tapi, memiliki anak di masa Pandemi Covid-19 berarti kita harus ekstra waspada dalam menjaga mereka tidak terpapar Covid-19. Akibatnya, tentu saja anak-anak kesulitan bertemu dengan orang lain dan bersosialisasi.

Hal ini memicu keresahan dalam lingkup kesehatan mental, khususnya risiko antisosial efek tidak bertemu dengan orang-orang. Menjadi kekhawatiran juga bagi sebagian orangtua bahwa anak mereka yang lahir di masa pandemi akan mengalami masalah ini.

Ya, si anak tidak tahu rasanya bermain dengan anak lain karena terhalang aturan pembatasan mobilitas maupun jaga jarak. Lantas, apakah pandemi Covid-19 memang berisiko tinggi membuat anak yang lahir di masa pandemi jadi anak antisosial?

Dijelaskan Psikolog Klinis Indria Laksmi Gamayanti, bahwa masalah ini dititikberatkan pada orangtua. Peran orangtua untuk menjadi pribadi yang ada untuk si anak, bersikap hangat pada si kecil, memengaruhi tumbuh kembangnya.

"Ketika orangtua si anak cukup hangat, mengajak anak-anaknya bermain bersama, berinteraksi secara langsung, saya kira upaya tersebut cukup aman untuk anak-anak tetap bisa mengembangkan dirinya dengan baik," kata Gama dalam konferensi pers virtual Kongres Nasional Ke-IV Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, Kamis (25/11/2021).

Hal yang tak kalah penting yang bisa dilakukan orangtua adalah mulai mengenalkan si anak secara pelan-pelan dengan orang lain jika kondisinya memungkinkan. Cara aman yang dapat dilakukan adalah silaturahmi virtual.

"Anak-anak zaman sekarang sudah cukup biasa berinteraksi atau berkomunikasi dengan kakek-neneknya pun saudara lainnya via video call. Tapi, pelan-pelan anak perlu dikenalkan dengan orang lain secara langsung," ungkapnya.

Gama menambahkan, dirinya pernah melakukan secara kegiatan yang melibatkan anak-anak, tapi tentunya jumlahnya sedikit dan dilakukan dengan protokol kesehatan sangat ketat. Upaya ini sekali lagi diperlukan untuk tetap membangun kemampuan relasi si anak secara nyata.

"Jadi, pelan-pelan anak dihubungkan dengan anak lainnya. Membiarkan mereka bermain bersama. Saya rasa pelan-pelan bisa," katanya.

"Jadi, kita sebagai orangtua tidak perlu terlalu khawatir anak akan jadi antisosial karena pandemi Covid-19 ini, selama keluarga, lingkungan, dan sekolah betul-betul mendukung dan memfasilitasi perkembangan sosialisasi si anak," tambahnya.

Di sisi lain, Psikolog Klinis A. Kasandra Putranto menambahkan bahwa pandemi memang memaksa beberapa anak akhirnya 'bersosialisasi' dengan gadget. Tapi, si anak tetap bisa mengasah kemampuan sosialnya dari apa yang dia lihat dan dia dengar.

"Di sini peran orangtua sangat berarti. Kami berharap agar orangtua bisa memberikan kegiatan yang sifatnya 3 dimensi. Artinya, kegiatan yang dilakukan si anak harus ada sentuhan yang membuat anak-anak belajar konsep sosialisasi," kata Kasandra.

"Berdasar suatu penelitian, diketahui bahwa anak-anak yang diberikan mainan gim perang itu emosi dan empatinya lama kelamaan terkikis. Beda dengan anak yang diberi mainan gim olahraga, si anak terbukti mengembangkan nilai sportivitas," tambahnya.

Karena itu, Kasandra sangat berharap agar orangtua mulai membatasi penggunaan gadget pada anak, pun soal gim yang ada di ponselnya. Kalau ada buku, itu akan jauh lebih baik.

"Tidak ada salahnya juga mengenalkan anak dengan kearifan lokal bahwa si anak dikenalkan dengan lagu daerah, tarian daerah, atau sejarah yang dikemas sedemikian rupa sehingga kemampuan dirinya dalam hal normal sosial dapat lebih terasah," saran Kasandra.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini