Kisah Haru Guru Muda Ajarkan Anak-Anak Desa Asinua Konawe Pandai Membaca

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 25 November 2021 14:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 25 612 2507321 kisah-haru-guru-muda-ajarkan-anak-anak-desa-asinua-konawe-pandai-membaca-Vjmi61QybA.jpg Guru dan muridnya (Foto: Ist)

ARI Ismi Hidayah tak pernah menyangka bahwa kedatangannya di Desa Asinua, Konawe, Sulawesi Tenggara, memberi kesan berarti untuk masyarakat di sana, khususnya anak-anak.

Ia datang sebagai guru muda, ia tak membawa ekspektasi apapun. Tapi, peran Ari di desa tersebut dinilai luar biasa.

 Ari

Ia dianggap berhasil membangun peradaban yang lebih baik. Ya, anak-anak yang awalnya tak mengenal huruf kini mulai bisa membaca. Pencapaian itu menjadi salah satu hal terindah dalam hidup Ari.

Ari terbang dari Magelang, Jawa Tengah, ke Konawe, Sulawesi Tenggara, karena terlibat dalam organisasi Taman Baca Inovator (TBI). Sebagai penggiat literasi, bukan hal aneh jika Ari kemudian ditugaskan memberikan ilmu kepada anak-anak pelosok.

Sebagai pengajar muda, ia sempat merasa insecure terlebih adanya anggapan bahwa angkatan pertama itu akan selalu ada momen sulit diterima. Tapi, itu hanya asumsi yang ada di benaknya.

Setibanya di Desa Asinua, yang mayoritas masyarakatnya bersuku Tolaki, Ari malah disambut dengan pelukan hangat. Ia diterima dengan sangat baik, bahkan dianggap 'orang pintar'.

"Aku dianggap tahu segala hal, termasuk dianggap bisa ngobatin orang sakit pun bisa mengatasi masalah-masalah adat. Karena itu, aku juga suka dilibatkan dalam rapat adat," ceritanya, Kamis (25/11/2021).

Ari tinggal bersama dengan orangtua asuh di Desa Asinua tersebut. Ibu asuhnya adalah guru di SD Negeri Asinua Utama, sedangkan bapak asuhnya bekerja di ladang.

Kehadiran Ari bahkan dianggap sebagai berkat untuk orangtua asuhnya. Ia dianggap sebagai anak pertama keluarga tersebut, dan anak-anak kandung ibu dan bapak asuhnya menganggap Ari sebagai kakaknya.

Kehangatan itu yang menguatkan Ari selama bertugas mengajar 1 tahun di Konawe. Di masa tugasnya itu, ia bertekat agar anak-anak didiknya itu bisa baca.

Ada 9 anak murid Ari di kelas 3 SD Negeri Asinua Utama, Desa Asinua tersebut dengan 6 di antaranya sama sekali tidak mengenal huruf. Ini menjadi tantangan tersendiri buatnya. Tapi, keyakinan dan keteguhan Ari menguatkannya.

Sampai akhirnya di akhir masa tugas, Ari menceritakan kalau dirinya berhasil membuat 4 anak yang awalnya sama sekali tidak bisa baca jadi bisa baca dengan lancar. Dua lainnya bisa membaca dengan mengeja.

Tak berhenti di situ, momen luar biasa terjadi ketika 2 tahun pasca-pulang ke Magelang, Ari ditelpon anggota berikutnya yang ditugaskan ke Konawe.

Pengajar yang kini bertugas di Konawe mengabarkan bahwa anak-anak didik Ari masih mengingatnya, tak pernah lupa.

"Anak-anak di Desa Asinua, Konawe, ternyata masih ingat dengan saya, salah satunya Sultan. Ia bahkan selalu menyebut nama saya karena 'Bu Ari yang ajarkan saya membaca'," ungkap Ari haru.

Sultan bahkan dikabarkan menjadi juara kelas saat kenaikan kelas 5 menuju kelas 6. Lagi, Sultan tak pernah lupa dengan jasa Ari yang sudah memberikannya ilmu yang luar biasa yaitu pintar membaca.

 Baca juga: Hari Guru Nasional 2021, Google Doodle Rayakan dengan Kartun Lebah Lucu

"Bahkan, anak-anak lain seperti Sulhan, Tik, Elsa, Raihan, atau Haikal, masih ingat dengan saya, karena saya adalah alasan mereka bisa baca. Saya amat terharu ternyata apa yang saya pernah lakukan untuk mereka, terus melekat dalam kehidupan mereka," tambah Ari.

Ari kembali ke sekolahnya dulu

Perempuan muda berusia 27 tahun tersebut benar-benar tidak menyangka bahwa kehidupannya akan sangat menarik. Ya, sebagai pengajar muda, Ari ternyata ditempatkan sebagai guru Matematika honorer di SMP Negeri 2 Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, yang mana itu adalah sekolahnya dulu.

Ari yang dulunya murid, kini punya murid di almamater sekolahnya. Bahkan, ada beberapa guru dia saat sekolah, kini menjadi rekan kerjanya. Hal yang sangat menakjubkan bagi Ari.

Ari bangga sekali bisa menjadi guru honorer di sekolahnya dulu itu. Bahkan, dia kerap dipuji oleh guru-gurunya yang dulu karena mahir dalam beberapa hal.

Namun itu tidak kemudian membuat Ari besar kepala. Ia malah membalas pujian itu dengan kalimat yang menyentuh.

"Aku selalu bilang ke ibu atau bapak guru aku yang sekarang jadi rekan kerja aku bahwa aku bisa sampai di titik ini, ya, karena kalian. Jasa ibu dan bapak saat aku masih sekolah dulu luar biasa untuk aku sampai ada di sini," katanya.

Ia menambahkan, "Aku jadi guru seperti sekarang, ya, karena mereka. Aku sekarang bertugas sebagai guru honorer di sekolah aku dulu, tapi aku sudah membulatkan tekad bahwa aku mau jadi guru dan kembali ke sekolahku," lanjut Ari.

Ada di titik seperti sekarang bukan tanpa perjuangan yang panjang. Tekad Ari yang bulat untuk mau jadi guru pun bukan tanpa alasan. Itu semua bermula saat dirinya masih kecil. Kala itu ia susah memiliki seragam atau sepatu yang layak. Uang saku pun sangat terbatas.

Dari masalah itu, para guru Ari yang mengulurkan tangan, memberikan bantuan kepadanya. Lewat tangan guru-gurunyalah Ari bisa punya seragam sekolah bahkan sesekali dapat uang saku tambahan.

Peran guru yang tak hanya ada untuk muridnya di kelas saja itulah yang membuat Ari yakin bahwa profesi guru adalah mimpinya. Guru adalah cita-citanya dan karena itu ia ingin sekali menjadi guru.

"Aku tinggal di salah satu kampung di Magelang. Profesi yang aku lihat guru. Di situlah aku kayaknya merasa guru itu berwibawa, keren, setiap ditanya tahu jawabannya," ungkapnya.

"Tapi ada momen yang membuat aku tersentuh lebih dalam. Jadi, saat itu aku masih SD, enggak bisa beli seragam layak, sepatu bagus, mungkin uang saku kurang. Nah, guru-guruku orang pertama yang bantu aku, yang ngasih bantuan seragam, ngasih tambahan uang saku. Dari situ, aku bilang dalam hati, aku mau jadi guru. Sampai sekarang, cita-citaku mau jadi guru," katanya bangga.

Sebelum menutup sesi wawancara, Ari menitipkan pesan kepada anak muda di luar sana bahwa sehebat apapun kalian, kalian mau jadi apapun, ingatlah ilmu pertama itu selain dari keluarga, datang dari guru. Percayalah para guru itu tidak pernah meminta diberikan materi apapun.

"Guru-guru itu merasa bangga saat mereka melihat ada muridnya sukses dengan impian muridnya masing-masing, dengan bidangnya masing-masing. Guru itu tidak perlu kalian sebut namanya di setiap momen, karena guru cuma ingin lihat hidup kalian layak dan baik, serta kalian menjadi orang sukses," ucap Ari.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini