Marak Perundungan yang Dilakukan Anak, Psikolog: Peran Keluarga Melemah

Avirista Midaada, Jurnalis · Kamis 25 November 2021 16:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 25 612 2507385 marak-perundungan-yang-dilakukan-anak-psikolog-peran-keluarga-melemah-6nZmFerohI.jpg Perundungan anak (Foto: Understood)

MUNCULNYA dua kasus perundungan dan penganiayaan di Malang, yang dilakukan oleh anak menggemparkan publik. Psikolog menyebut, ini akibat kurangnya peran keluarga.

Apalagi keluarga merupakan pihak pertama yang memberikan pengawasan dan edukasi kepada anak-anak.

 perundungan

Psikolog Anak Wulida Azmiyya El Rifqiya, M.Psi menyatakan, keluarga seharusnya bertanggungjawab terhadap penerapan nilai, moral, etika, dan keagamaan kepada anak. Keluarga menjadi tempat belajar pertama bagi anak-anak, bahkan hingga mereka dewasa.

"Jadi keluarga itu menjadi tempat sebenarnya belajar pertama kali anak-anak untuk memahami, untuk mengerti, untuk belajar, bagaimana etika, gimana belajar agama, menghormati orang lain, bagaimana ketika melakukan sesuatu hal yang tidak bikin nyaman, atau tidak baik untuk orang lain berani mengakui, minta maaf, minta tolong sebenarnya belajarnya dari keluarga dan lingkungan," ujar Wulida.

Psikolog anak di salah satu rumah sakit swasta di Kota Malang ini menambahkan, edukasi terhadap penggunaan gadget atau perangkat lain juga perlu. Apalagi terkadang orang tua dan keluarga sudah mengawasi sedemikian rupa, tetapi karena efek penggunaan gadget anak menjadi terjadi perubahan signifikan ke arah yang negatif.

Maka disinilah peran lingkungan sekitar juga yang turut mengedukasi sang anak agar terhindar dari perilaku menyimpang dan hal-hal negatif.

"Jadi kadang kala edukasi Ini akhirnya menjadi sesuatu hal yang penting, ketika memang ada sesuatu yang mungkin dilihat, atau terjadi pada lingkungan itu. Bisa jadi di rumah orang tuanya sudah sangat berusaha sekali untuk menjaga harus ini, mengajarkan hal-hal yang baik, tetapi dari gadget bisa mengakses sendiri dan lain-lain," jelasnya.

Ia menekankan perlu adanya pendampingan kepada anak - anak bahkan saat ia tumbuh dewasa. Sebab di sinilah peran orang tua, keluarga, dan lingkungan sekitar menjadi kunci bagian dari faktor tumbuh kembang anak.

"Makanya yang namanya anak-anak ini perlu sekali pendampingan, dan perlu banyak pengajaran, penjelasan terhadap sesuatu hal yang terjadi. Jadi anak tidak dibiarkan untuk memaknai apapun sendiri, apalagi untuk mengakses hal-hal yang kurang baik kontennya. Anak zaman sekarang ini nggak begitu. Jadi balik lagi di konsep keluarga itu tadi kayaknya harus ekstra untuk bisa benar-benar mendampingi anak-anak," ungkapnya.

Bila pola komunikasi antara orang tua, keluarga, dan anak ini hilang dikatakan Wulida, anak akan mencari jati dirinya dan pelampiasan di luar. Sehingga ini memicu adanya perubahan perilaku sang anak dari efek pergaulan yang dilakukannya di luar. Apalagi akan ada peristiwa traumatis yang menimpanya di luar keluarga.

"Namun ketika ada sesuatu hal yang terjadi, atau yang salah pada diri mereka atau sesuatu hal yang mungkin terjadi tentu akan berdampak besar pada diri anak tersebut, atau pada siapapun yang mengalami pelecehan seksual dan sebagainya," paparnya.

"Jadi mungkin karena pelaku melakukan, karena ada kesempatan, dan juga bisa karena memang anak-anak belum mendapatkan pendidikan seks, di Indonesia sendiri kadang juga masih kurang berkaitan pendidikan seks, terus juga anak tidak berani untuk menolak, karena takut, atau karena diancam dan juga karena kurangnya pengawasan dari orang tua," tandasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini