Tanamkan Empati pada Anak Bisa Minimalisir Dampak Negatif Digitalisasi

Tim Okezone, Jurnalis · Jum'at 26 November 2021 17:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 26 612 2507961 tanamankan-empati-pada-anak-bisa-minimalisir-dampak-negatif-digitalisasi-snmjEW6rU7.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PERKEMBANGAN teknologi memang layaknya dua sisi mata uang. Di satu sisi, kita bisa mendapatkan informasi yang sangat besar dari penggunaan teknologi, tapi di sisi lain cepatnya informasi ini kadang membuat seseorang mendapatkan berita yang belum tentu benar.

Apalagi, selain berita-berita yang kurang bisa dipercaya ada juga bully secara virtual. Hal ini tentu saja mengkhawatirkan, apalagi bagi anak-anak kita yang masih belum paham cara mengontrol emosi dengan baik.

Psikolog Klinis Fungsional RSUP Dr. Sardjito, DR. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si., mengatakan, kemampuan berempati dan bersosialisasi pada anak-anak perlu diasah untuk meminimalisir dampak negatif dari digitalisasi.

​“Hal yang paling sederhana keterampilan orang untuk bersosialisasi bisa menjadi berkurang. Kalau ini (terjadi) sejak kecil, dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan berempati dan bersosialisasi,” ujarnya seperti dilansir dari Antara.

Terlebih, digitalisasi di masa pandemi menjadikan pertemuan tatap muka sebagai sesuatu kelaziman sehingga orang menjadi lebih nyaman dengan situasi yang serba bisa digital dan tidak mengharuskan bertemu secara langsung dengan orang lain, tambah Gamayanti.

Anak

Manurut Gamayanti, banyak anak-anak yang mengalami berbagai keluhan akibat perubahan proses pembelajaran menjadi daring, hal tersebut juga ditemukan oleh Satgas IPK Indonesia untuk penanggulangan COVID-19.

“Banyak anak yang cemas, harus menyesuaikan diri, terlebih untuk anak-anak berkebutuhan khusus, mereka sulit sekali untuk menyesuaikan diri dengan sistem belajar online,” tutunya.

Sebagai psikolog klinis, pihaknya mengatakan telah sejumlah upaya untuk menjawab permasalahan tersebut, seperti melakukan konseling melalui orang tua dan guru serta melakukan terapi secara langsung pada anak-anak, baik secara daring maupun luring.

“Walaupun (saat ini) kita terpaksa online, tetapi kita bisa mengajak beberapa remaja untuk berdiskusi bersama kemudian dipandu sehingga mereka juga bisa menceritakan pengalamannya dan bermain bersama secara daring,” katanya.

Meski demikian, ia juga mendorong agar anak-anak ini dapat melakukan aktivitas-aktivitas luar ruangan yang lebih banyak dengan mengikuti protokol kesehatan sehingga proses tumbuh-kembang anak tidak terganggu.

“Bagaimana pun juga keterampilan untuk bersosialisasi secara langsung ini juga menjadi lebih penting dan akan berkembang menjadi lebih banyak ketika kita bertemu langsung, empati juga lebih terasah,” ujar Gamayanti.

Psikolog Klinis dan Forensik Dra. Adityana Kasandravati Putranto mengatakan situasi pandemi memang telah menghadang aktivitas tatap muka dan mengharuskan anak-anak berinteraksi melalui gadget, ditambah hanya berdiam diri di dalam rumah.

Meski demikian, katanya, orang tua juga dapat mendorong anak-anak untuk melakukan permainan yang bersifat sportivitas, seperti olah raga, atau permainan serta budaya lokal yang mengandung nilai-nilai sosial sehingga kemampuan berempati dan bersosialisasinya dapat terasah.

“Anak-anak bisa mengembangkan kemampuan empati itu juga bergantung apa yang dia lihat sepanjang masa kehidupannya,” tutur psikolog lulusan Fakultas Psikologi UI itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini