Share

Sulitnya Kaum Difabel Mencari Kerja, Ternyata Ini Penyebabnya

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 27 November 2021 21:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 27 612 2508429 sulitnya-kaum-difabel-mencari-kerja-ternyata-ini-penyebabnya-tUdhLunhLK.jpg Ilustrasi. (Foto: Huffingtonpost)

ISU tentang disabilitas agar mendapatkan hidup layak nampaknya dipandang sebelah mata. Tak sedikit difabel yang kesulitan mendapat akses untuk beraktivitas di luar rumah.

Staf Khusus Presiden Bidang Sosial Angkie Yudistia mengingatkan adanya undang-undang yang menjadi payung hukum para difabel. Ia menyebut jika Presiden Joko Widodo telah menandatanginya UU no 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas.

"Presiden bertanya apa yang bia negara lakukan untuk penyandang disabiltas, yang harus dilakukan pertama adalah negara membuat kebijakan hukum, hingga pada akhirnya 2019, presiden menandatangani undang-undang sebagai payung hukum," ujar Angkie dalam acara bersama Menembus Batas.

Angkie menyebutkan, dalam undang-undang tersebut penyandang disabilitas memiliki hak hidup, bebas dari stigma, privasi, keadilan dan perlindungan hukum, pendidikan, pekerjaan, kewirausahaan, dan koperasi, kesehatan, politik, keagamaan, keolahragaan, kebudayaan dan pariwisata, kesejahteraan sosial, aksesibilitas, pelayanan publik, pelindungan dari bencana, habilitasi dan rehabilitasi, hingga soal kewarganegaraan, serta  bebas dari tindakan diskriminasi, penelantaran, penyiksaan, dan eksploitasi.

Baca Juga: Penyandang Disabilitas di Jawa-Bali Hampir 100% Sudah Divaksin Covid-19

Dalam undang-undang tersebut, jelas Angkie, penyandang disabilitas dikategorikan menjadi beragam jenis. Mulai mental, intelektual, fisik hingga sensorik.

"Ini isu multisektor dan memastikan implementasi payung hukum dan kebijakan harus terlaksana dengan baik, tepat dan dirasakan penyandang disabilitas," katanya.

Baca Juga: Masyarakat Depok Terbantu BLT BBM

Data Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018 menyebut ada penurunan jumlah 31 juta jiwa, lalu di 2020 ada sebanyak 28 juta jiwa.

"Paling banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa, padahal penyandang disabilitas ada di banyak dan mereka ini dianggap minoriti, padahal di negara maju ini tidak," kata Angkie.

Sementara itu, Co Founder and Advisor Menembus Batas Ferro Ferizka mengatakan, pentingnya metode big data untuk pendataan difabel. Mereka juga sering mengeluhkan kesulitan dapat informasi, padahal sudah banyak tersedia.

"Perlu adanya jembatan seperti bantuan sumber daya yang bisa memberikan program resource, tapi gak bisa tersampaikan kepada teman-teman disabilitas," terangnya.

Sejauh 10 tahun terlibat dan peduli dengan difabel, pihaknya memperoleh data jumlah difabel sekira 30,38 juta di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sayangnya baru 200 ribu dicover dan 40 ribu sudah dinaunginya.

Agar lebih banyak menjangkau difabel lainnya, dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak. Tak hanya pemerintah, namun juga stakeholder lainnya.

Ferro melihat bahwa hampir semua difabel yang pernah dia temui punya kemauan gigih untuk hidup normal seperti orang lain. Mereka juga tahu bahwa untuk mendapat informasi apapun sekarang lebih mudah.

"Mereka punya semangat bisa bekerja, tapi aksssnya gak dapat. Mobilitas mereka terbatas, jadi gadget dan teknologi bisa menggantikan peran dan memberikan manfaat," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini