Kisah Inspiratif Alumni Kriminolog UI, Sulap Eceng Gondok Jadi Produk Fashion Kekinian

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 29 November 2021 16:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 29 612 2509095 kisah-inspiratif-alumni-kriminolog-ui-sulap-eceng-gondok-jadi-produk-fashion-kekinian-ZTK2wX8Kzu.jpeg Firman Setyaji (Foto: Leo/MPI)

BAGI sebagian orang, eceng gondok adalah tanaman hama yang biasa tumbuh di sekitar lingkungan sungai maupun kali. Meski demikian, dengan tangan kreatif pria bernama Firman Setyaji, eceng gondok ini berhasil menjadi barang bernilai jual hingga ke mancanegara.

Ya, pria kelahiran 1990 ini merupakan CEO dari Bengok Craft yang sudah berdiri sejak 2019. Bengok sendiri memiliki arti eceng gondok dalam bahasa lokal Jawa. Hingga kini usaha yang berdiri di Desa Sejambu, Kesongo, Tuntang, Jawa Tengah ini telah menelurkan banyak varian kerajinan.

Firman sukses membuktikan kepada masyarakat bahwa eceng gondok yang awalnya dipandang sebelah mata, bisa disulap menjadi barang bernilai jual. Setidaknya hingga saat ini sudah ada 100 produk yang dibuat dengan bahan baku eceng gondok.

Firman Setyaji

Baca Juga : Aneka Kerajinan Tangan dari Eceng Gondok Jadi Rebutan di Malaysia

Mulai dari sandal, topi, tas, keranjang, buku, baju, hingga jaket diolah dengan sentuhan eceng gondok di dalamnya. Modelnya pun sangat unik dan sesuai dengan fashion kekinian.

"Awalnya ide saya ini sempat ditentang orangtua. 'Buat apa kuliah mahal-mahal kalau cuma bisnis eceng gondok', kata Firman saat diwawancarai MNC Portal, Jumat (26/11/2021).

Baca Juga : Mahasiswa UB Ciptakan Lotion Anti Inflamasi dari Eceng Gondok

Sandal dari Eceng Gondok

Namun stigma negatif dari orangtua itu berhasil dipatahkan dengan kesuksesannya dalam mengolah produk eceng gondok. Dengan keberhasilan Firman menjual produknya hingga ke Milan, Italia, kedua orangtuanya pun kini sangat senang dan mendukung bisnis sang anak.

"Sekarang orangtua mendukung, bahkan senang banget. Saya juga berupaya menggaet mahasiswa dan masyarakat lokal sekitar untuk bergabung untuk bergabung dengan Bengok Craft. Hingga saat ini sudah ada 20 pekerja aktif," lanjutnya.

Firman menjelaskan awalnya, rata-rata pekerja yang bergabung dengan Bengok Craft adalah pengangguran. Selain itu para pekerja juga berasal dari keluarga kurang mampu. Namun, dengan sosialisasi dan kreativitas yang diberikan Firman kini usaha tersebut mampu menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus melestarikan lingkungan.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini