Share

Lezatnya Nasi Campur Sinamin Khas Karangasem, Sudah Ada sejak Zaman Jepang

Yunda Ariesta, Jurnalis · Sabtu 04 Desember 2021 08:55 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 04 298 2511733 lezatnya-nasi-campur-sinamin-khas-karangasem-sudah-ada-sejak-zaman-jepang-WSWaEE8WtJ.jpg Nasi campur sinamin khas Karangasem, Bali, yang sudah ada sejak zaman Jepang. (Foto: Yunda Ariesta/iNews TV)

SALAH satu kuliner legendaris yang lezat adalah nasi campur sinamin asal Karangasem, Bali. Makanan unik ini ternyata sudah ada sejak zaman Jepang dan masih eksis sampai sekarang.

Meski berjualan di teras rumah di dalam gang sempit, nasi campur sinamin yang berada di kawasan Bangras, Karangasem, Bali, tetap laris manis diburu pembeli. Kuliner legenda yang lezat ini bahkan dalam sehari laku ratusan bungkus.

Baca juga: Sejarah Bir Jawa, Minuman Diplomasi Keraton Yogyakarta dengan Belanda 

Nasi campur sinamin khas Karangasem, Bali, yang sudah ada sejak zaman Jepang. (Foto: Yunda Ariesta/iNews TV)

Baca juga: 5 Makanan Khas Indonesia yang Mendunia, Jadi Favorit Turis Loh 

Lokasi berjualannya cukup unik. Dari jalan utama harus masuk cukup jauh ke gang sempit. Sampai di sebuah teras rumah dan harus mengantre dengan pembeli lain.

Penjualan nasi campur sinamin ini sekarang telah diteruskan oleh generasi ketiga. Warung nasi campur ini sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang. Pendirinya adalah Sinamin, seorang nenek yang sudah berjualan sejak gadis.

Warung ini menyajikan nasi dengan beberapa menu, seperti telur, daging sapi kentang dan ayam suwir, dan tempe manis. Lalu yang paling diburu pembeli dan jadi menu primadona adalah kerupuk rambak kuah serta urab daun belimbing. Dua menu tersebut yang membuat para pembeli rela jauh-jauh datang untuk membeli nasi sinamin.

Selain enak, harga nasi campur sinamin juga sangat terjangkau. Ini membuat nasi sinamin tetap eksis. Satu bungkusnya dengan lauk yang melimpah hanya dibanderol Rp10 ribu.

Baca juga: 5 Makanan Lezat Khas Cirebon, Dijamin Menggugah Selera 

Sebelum pandemi, pemilik warung biasa memasak 25–30 kilogram nasi dalam sehari. Berjualan sejak pukul 07. 00 hingga 11.00, semuanya kerap ludes tidak tersisa. Tapi sejak pandemi terjadi penurunan, warung ini hanya memasak 15–20 kilogram nasi. Meski demikian, tetap ludes hanya dalam beberapa jam.

Di tengah kondisi pandemi ini, pembeli yang makan langsung di tempat hampir jarang. Rata-rata pembeli akan membungkusnya atau memesan lewat ojek online.

Baca juga: Resep Laksamana Mengamuk, Es Khas Riau yang Punya Cerita Unik 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini