Share

Orangtua Harus Perhatikan Psikologi Anak Dalam Kegiatan Belajar

Novie Fauziah, Jurnalis · Senin 06 Desember 2021 11:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 06 612 2512513 orangtua-harus-perhatikan-psikologi-anak-dalam-kegiatan-belajar-cZHWKvqeae.jpg Anak belajar (Foto: Freepik)

PEMERINTAH sudah memperbolehkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bagi anak sekolah meski secara terbatas. Hal ini menjadikan para siswa dan siswi melaksanakan pembelajaran hybrid learning alias PTM dan daring sekaligus.

Psikolog Anak, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto menuturkan, saat anak-anak harus melakukan pembelajaran jarak jauh, maka akan ada dampak psikologisnya.

Kak Seto menjelaskan, salah satu dampak psikologis yang sering sekali dialami anak adalah rasa jenuh.

"Anak umumnya terbiasa dengan belajar di sekolah. Mereka merasa bosan dan jenuh dengan sistem pembelajaran jarak jauh" terangnya.

 anak belajar

Oleh karena itu mengingatkan, tetap menjaga psikologis anak saat mengikuti PTM secara terbatas sangat penting dilakukan terutama di masa pandemi Covid-19.

"Semua pihak harus melindungi psikologis anak baik saat mengikuti PTM terbatas ataupun pembelajaran jarak jauh (PJJ)," katanya dialog Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) – KPCPEN secara virtual beberapa waktu lalu.

Guna membantu kegiatan belajar dan mengajar saat secara hybrid maka siswa hingga pengajar membutuhkan pengetahuan dan fasilitas untuk mempermudah kegiatan belajar mengajar secara hybrid.

Seperti diketahui pendidikan anak merupakan salah satu prioritas utama orang tua, tak terkecuali pada masa pandemi saat ini. Keadaan yang dinamis juga menuntut orang tua untuk beradaptasi dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Berbagai platform digital, dapat membantu serta mempermudah para orang tua untuk mendampingi anak-anaknya belajar. Apalagi saat ini sebagian anak masih ada yang melakukan kegiatan belajar secara virtual.

Chief Operating Officer (COO) Pahamify Mohammad Ikhsan mengatakan, Selain guru dan sekolah, orang tua memegang peranan penting dalam mendukung potensi dan masa depan anak.

Terlebih saat ini intensitas orang tua untuk berinteraksi dengan anak lebih tinggi dibandingkan sebelum masa pandemi. Di mana mereka (para orang tua) hampir setiap hari menemani anak-anaknya belajar di rumah.

"Kami memahami bahwa orang tua juga butuh untuk berbagi dan berdiskusi dalam rangka memperoleh informasi serta menambah wawasan seputar anak," katanya.

Baca juga: Tanamkan Empati pada Anak Bisa Minimalisir Dampak Negatif Digitalisasi

Sementara itu data dari SurveyMETER pada akhir tahun 2020 menyatakan bahwa sebanyak 44,4 persen ibu dan 38,5 persen ayah menghabiskan lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak mereka dibandingkan sebelum adanya pandemi. Pada masa inilah, orang tua juga berperan sebagai guru dan sahabat bagi anak.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini