Penyakit Radang Saraf Mata yang Dialami Joko Dipastikan Bukan karena Efek Vaksin Astrazeneca

Avirista Midaada, Jurnalis · Selasa 07 Desember 2021 15:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 07 481 2513341 penyakit-radang-saraf-mata-yang-dialami-joko-dipastikan-bukan-karena-efek-vaksin-astrazeneca-faM504ChJ5.jpg Vaksin Covid-19 (Foto: Unsplash)

KEBUTAAN  yang dialami warga Malang bernama Joko Santoso dipastikan bukan karena efek vaksin jenis Astrazeneca. Hasil ini setelah tim medis gabungan Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) melakukan serangkaian pemeriksaan selama tiga bulan hingga kontrol terakhir pasien, pada 26 November 2021 lalu.

Dokter spesialis mata konsultan sub spesialis Neuro-oftalmologi dr. Wino Vrieda menyatakan, Joko Santoso menderita neuritis optik atau peradangan saraf mata. Dimana itu merupakan peradangan pada mata yang disebabkan beberapa hal yang belum diketahui.

 Joko

"Yang paling banyak biasanya disebabkan penyebab yang tidak bisa diketahui. Atau bisa disebabkan proses inflamasi, proses infeksi, atau penyebab yang lain," kata Wino, sapaan akrabnya, saat konferensi pers di RSSA, pada Selasa (7/12/2021).

Wino menambahkan, penyakit neuritis optik menurunkan fungsi secara anotomi akan mengubah struktur dari saraf mata. Hal ini bisa menyebabkan mata pada pasien mengalami kebutaan, atau penglihatan mata kabur.

"Sehingga berbagai penyebab mata itu bisa terjadi pada pasien. Apakah pasien bisa terkait kondisi tersebut, Memang perlu dilakukan pemeriksaan secara lengkap yang sudah kami lakukan, dan kejadian pada vaksin ataupun tidak pada optik neuritis, secara umum sendiri memang masih bisa kondisi dapatan. Akibat adanya suatu kondisi lain," terang dia.

Dirinya menegaskan, penyakit yang diderita Joko bisa disembuhkan dengan rutin pengobatan dan kontrol berkala. Namun diakuinya perlu proses yang tak sebentar, serta memerlukan waktu beberapa bulan.

"Pada optik neuritis yang dialami oleh pasien, pada umumnya akan bisa mengalami perbaikan siginifikan, dalam perawatan beberapa bulan. Mulai dari beberapa minggu dan beberapa bulan. Dan evaluasi secara berkala penting dilakukan. Evaluasi bisa hingga 6 bulan sampai 1 tahun, secara berkala, tetap harus dilakukan. Jadi secara keseluruhan akan tetap bisa dialami pasien optik neuritis," paparnya.

Nantinya dikatakan Wino, tim akan melakukan evaluasi kembali setelah Joko melakukan serangkaian pemeriksaan dan pengobatan selama enam bulan ke depan. Tetapi hal ini juga bergantung pada kondisi pasien sendiri.

"Kita lakukan evaluasi selama tiga bulan, di mana perkembangan terkait optic neuritis membutuhkan waktu minimal 6 bulan, akan sangat bervariasi sekali, tergantung bagaimana kondisi pasien itu. Makanya kita sangat mengharapkan sekali pasien melakukan pemeriksaan rutin berkala ke poli mata dan poli syaraf, untuk bisa mengetahui bagaimana penglihatan pasien," tukasnya.

Sebelumnya diberitakan, seorang warga Kota Malang mengeluhkan mengalami kebutaan pasca menerima vaksin Covid-19 dosis pertama dengan vaksin Astrazeneca pada Jumat 3 September 2021.

Informasi ini disampaikan oleh istrinya bernama Titik Andayani melalui grup media sosial Facebook di Komunitas Peduli Malang Raya dan menuai beragam respons.

 Baca juga: 45 Negara Sudah Laporkan Kasus Varian Omicron, Kemenkes: Sangat Cepat Penyebarannya

Kondisi Joko cukup memprihatinkan, di mana ia harus dibantu dengan tongkat untuk berjalan. Selain itu penglihatannya saat ini juga masih buram dan tidak bisa membedakan warna, alias hitam putih.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini