WHO Tak Merekomendasikan Plasma Konvalesen untuk Obati Covid-19, Kenapa?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 07 Desember 2021 15:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 07 481 2513347 who-tak-merekomendasikan-plasma-konvalesen-untuk-obati-covid-19-kenapa-zyLm9Vvggm.jpg Plasma konvaselen (Foto: BS)

BADAN Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan rekomendasi untuk tidak memberikan plasma konvalesen untuk mengobati pasien Covid-19. Ini berkaitan dengan hasil studi yang menunjukkan bahwa terapi tersebut tidak memberikan peningkatan perbaikan pada pasien Covid-19.

Rupanya terapi plasma konvalesen sendiri dikerjakan dengan mentransfer plasma darah seseorang yang telah sembuh dari Covid-19 ke pasien yang sedang berjuang melawan virus corona dengan harapan antibodi yang terkandung di dalam plasma darah dapat melawan infeksi.

 plasma konvaselen

Namun, tim WHO menemukan bahwa, "Terapi plasma konvalesen tidak memberi manfaat yang pasti seperti menurunkan kematian dan risiko penggunaan ventilator pada pasien tidak parah, parah, dan kritis, serta kebutuhan sumber daya yang signifikan dalam hal biaya dan waktu pemberian," terang laporan tersebut dikutip MNC Portal dari CNBC, Selasa (7/12/2021).

Bahkan, tim WHO juga menemukan informasi bahwa terapi tersebut menghadapi tantangan praktis seperti sulitnya mencari pendonor dan pengujian donor yang rumit, pun soal pengumpulan plasma yang memerlukan keahlian khusus.

Rekomendasi WHO ini didasarkan pada 16 uji coba dengan lebih dari 16.000 pasien dengan infeksi Covid-19 derajat tidak parah, parah, dan kritis. "Tim WHO menyarankan agar terapi ini harus dilanjutkan dalam uji coba kontrol secara acak," terang laporan ilmiah yang dipublikasi dalam British Medical Journal tersebut.

Di sisi lain, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada Februari membatasi izin penggunaan darurat terapi plasma konvalesens hanya untuk pasien rawat inap di awal penyakit dan mereka yang dirawat di rumah sakit dengan gangguan sistem kekebalan, yang mana si pasien tidak mampu menghasilkan respons antibodi yang kuat.

"Plasma dengan tingkat antibodi yang rendah belum terbukti membantu pengobatan Covid-19," terang laporan FDA.

Sebelum pernyataan itu keluar, FDA pada Agustus 2020 memberikan izin penggunaan darurat terhadap terapi plasma konvalesen untuk terapi Covid-19 berlandaskan tidak adanya perawatan jenis lain yang disetujui untuk penanganan infeksi Covid-19.

Tidak adanya rekomendasi terkait terapi plasma konvalesen untuk Covid-19 pun keluar dari National Institute of Health (NIH) yang mengatakan plasma konvalesen tidak membantu pasien Covid-19. Ini berdasarkan hasil penelitian yang melibatkan 500 pasien Covid-19 usia dewasa di University of Pittsburgh.

Bahkan, uji coba NIH dihentikan karena tidak ada perkembangan yang signifikan terkait efektivitas terapi tersebut terhadap penanganan pasien Covid-19.

Lebih lanjut, The New England Journal of Medicine dalam penelitian terbaru yang rilis bulan lalu menemukan bahwa plasma konvalesen tidak mencegah perkembangan penyakit pada pasien rawat jalan berisiko tinggi bila diberikan satu minggu setelah timbulnya gejala.

"Terapi ini juga tidak meningkatkan hasil klinis pada pasien rawat inap di akhir perjalanan penyakitnya," terang hasil penelitian The New England Journal of Medicine.

 Baca juga: 45 Negara Sudah Laporkan Kasus Varian Omicron, Kemenkes: Sangat Cepat Penyebarannya

Namun, penelitian The New England Journal of Medicine malah menemukan informasi bahwa plasma konvalesen memang mengurangi perkembangan penyakit pada orang dewasa dengan rawat jalan jika diberikan dalam waktu 72 jam setelah gejala muncul.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini