Share

Siskaeee Eksibisionis Akibat Trauma Masa Lalu, Ini Respons Psikolog!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 10 Desember 2021 11:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 10 612 2514867 siskaeee-eksibisionis-akibat-trauma-masa-lalu-ini-respons-psikolog-I9VN89Fj3X.jpeg Aksi Siskaee viral (Foto: Tangkapan Layar)

HASIL tes kejiwaan Siskaeee menunjukkan bahwa dirinya melakukan aksi eksibisionis akibat trauma masa lalu. Tersangka kasus prostitusi itu juga mengaku mendapat kepuasan seksual setelah memamerkan alat vitalnya kepada sembarang orang.

Berkaca dari hasil tes kejiwaan tersebut, MNC Portal coba mendalami permasalahan ini dengan Psikolog Klinis Meity Arianty. Dalam konteks diagnosa, Mei tidak mau memberikan pernyataan pasti soal diagnosis eksibisionis, karena tidak melakukan pemeriksaan langsung terhadap Siskaeee.

Namun, Mei, sapaan akrabnya, coba menuturkan beberapa kemungkinan seseorang bisa melakukan aksi eksibisionis dan trauma masa lalu seperti apa yang membuat pelaku eksibisionis dalam melakukan tindakan tak senonoh tersebut.

Mei memulai dengan pembahasan bahwa eksibisionis itu sendiri masuk dalam golongan parafilia. Berdasarkan panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), parafilia dapat dibedakan dari sumber gairahnya.

"Misalnya, berdasar salah satu survei yang pernah dilakukan, diketahui bahwa 3,1 persen pelaku eksibisionis merasa terangsang dengan memperlihatkan alat kelamin mereka kepada orang asing setidaknya sekali selama hidup mereka. Ini disampaikan oleh Langstrom & Seto, 2006," terang Mei, melalui pesan singkat, Jumat (10/12/2021).

Baca Juga : Aksi Siskaeee Viral, Apa Itu Perilaku Eksibisionis yang Termasuk Gangguan Kejiwaan?

Gangguan eksibisionis sendiri adalah keinginan berulang dan intens untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan mengekspos alat kelamin ke orang asing yang tidak mau. Biasanya, kata Mei, tindakan ini dimulai di usia remaja dan jarang ada upaya untuk melakukan kontak yang sebenarnya dengan orang asing tersebut.

"Dorongan untuk mengekspos tampaknya besar dan hampir tidak dapat dikendalikan oleh para eksibisionis dan tampaknya dapat dipicu kecemasan dan kegelisahan, serta gairah seksual karena adanya dorongan yang kompulsif, berulang, dan bahkan dalam waktu singkat di waktu yang sama," papar Mei.

Siskaeee

Pandangan lain diutarakan Mei berdasar pernyataan Stevenson and Jones bahwa biasanya pelaku melakukan aksi eksibisionis itu dalam keadaan keputusasaan dan ketegangan dan biasanya mereka mengalami sakit kepala dan jantung berdebar-debar, serta memiliki perasaan tidak nyata. Setelah mengekspos alat kelamin, pelaku cenderung segera melarikan diri dan menyesal.

Baca Juga : Siskaeee Pamer Payudara dan Kelamin di Tempat Umum, Polisi: Dia Gembira, Takut, Gelisah dan Puas!

Terkait dengan penyebab pasti eksibisionis, Mei menuturkan bahwa sampai saat ini masih menjadi bahan penelitian lebih lanjut dan dari sekian banyak teori tentang etiologi parafilia, penyebab paling utama berasal dari perspektif biologis dan perilaku.

"Soal penyebab eksibisionis masih belum banyak informasinya karena banyak dari pelaku tidak mau membicarakannya pun mengaku paraphilias, sehingga peneliti memiliki sedikit kesempatan untuk memahami penyebabnya," kata Mei.

Mei coba mengutip dari buku Kring yang disampaikan Kafka bahwa hormon androgen yang mengatur hasrat seksual memiliki peran cukup berarti dalam perilaku eksibisionis ini. Jadi, hormon hasrat seksual itu diketahui sangat tinggi pada orang-orang dengan parafilia.

Selain itu, faktor psikologis dominan menekankan pengalaman pengkondisian, sejarah hubungan sebelumnya, pelecehan sebelumnya, dan kognisi memainkan peran juga.

"Sejarah masa kecil orang-orang dengan parafilia mengungkapkan bahwa mereka sering terpapar kekerasan fisik, pelecehan seksual, kekerasan dalam keluarga, kurangnya pengawasan jika pelecehan itu dilakukan oleh seorang perempuan, dan hubungan orangtua dan anak yang buruk, pun soal distorsi kognitif dan sikap memainkan peran dalam parafilia," ungkap Mei.

Ia memberikan contoh, misalnya pelaku mungkin memiliki distorsi dalam cara berpikir tentang perilaku seksual mereka. Ini yang kemudian membuat mereka tidak tahu bahwa perilaku eksibisionis yang dilakukan itu tidak normal.

"Penelitian lain menunjukkan bahwa alkohol dan pengaruh negatif sering kali menjadi pemicu langsung dari insiden gangguan eksibisionistik," lanjut Mei.

Mei mengatakan bahwa kemungkinan trauma masa kecil bisa menjadi penyebab seseorang mengalami gangguan ini, sehingga pelaku harus mendapatkan penanganan yang tepat, salah satunya menjalani terapi dengan teknik Psikoanalisis tradisional yang melibatkan proses panjang dari pencarian akar masalah di masa kecil.

"Permasalahan utamanya ialah justru banyak orang dengan gangguan ini tidak termotivasi untuk berubah, kecuali jika mereka percaya bahwa penanganan yang diberikan akan membebaskannya dari hukuman," tambah Mei.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini