Share

Haji Lulung Alami Serangan Jantung Sebelum Meninggal, Gejalanya Bisa Terjadi di Usia 20-an

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Okezone · Selasa 14 Desember 2021 12:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 14 612 2516750 haji-lulung-alami-serangan-jantung-sebelum-meninggal-gejalanya-bisa-terjadi-di-usia-20-an-u5TEziGrB3.jpg Haji Lulung Dirawat. (Foto: PPP)

POLITIKUS Abraham Lunggana atau yang akrab dikenal sebagai Haji Lulung meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita. Sebelum meninggal Haji Lulung memang tengah dirawat karena mengalami serangan jantung.

Haji Lulung sendiri, mengalami serangan jantung berulang karena patah kateter dan sempat kritis di ruang ICVCU (Intensive Cardiovascular Care Unit). Dia juga mendapatkan penanganan ventilator karena tak sadarkan diri.

dr Sudhir Pillai, Konsultan Kardiologi RS Hinduja, Mahim, Mumbai, India mengatakan serangan jantung atau infark miokard mengacu pada penyumbatan atau gumpalan darah yang terbentuk di dalam arteri. Karena adanya sumbatan, aliran darah jadi terhalang dan jantung pun tak mendapatkan suplai darah yang cukup.

Lebih lanjut dr Sudhir menjelaskan, jika aliran darah ke jantung tersumbat secara tiba-tiba akibat pembentukan plak, hasil dari timbunan lemak, termasuk kolesterol, arteri koroner dapat menyempit yang pada akhirnya menyebabkan serangan jantung. "Serangan jantung dapat sangat berakibat fatal, oleh karena itu jika terjadi diperlukan perawatan medis yang tepat dan sesegera mungkin," sambungnya.

Perlu diketahui sebelumnya bahwa penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit yang terjadi di jantung, sudah ada sejak dulu kala. Ini bukan sesuatu yang baru, namun terus berevolusi dan salah satu perubahan yang terjadi adalah sasaran penyakit.

Haji Lulung

Beberapa ahli mengatakan serangan jantung berkaitan dengan multi-faktor, mulai dari gaya hidup, apa yang Anda konsumsi setiap harinya, rutinitas olahraga Anda, dan bagaimana Anda mengelola stres menjadi pemantik dari serangan jantung tersebut.

Alasan utama, menurut dr Vanita Arora, Konsultan Senior sekaligus Ahli Elektrofisiologi Jantung dan Ahli Jantung Intervensi dari RS Apollo New Delhi, saat ini banyak orang tidak secara rutin memeriksakan jantungnya.

"Jadi, orang-orang mulai rajin berolahraga tapi mereka tidak melakukan pre-cardiac untuk menentukan olahraga yang pas dengan kondisi tubuh seperti apa. Alhasil, mereka berolahraga di gym, angkat beban, tapi tidak memerhatikan bagaimana kesehatan jantungnya," terang Arora.

Buruknya lagi, sudah mereka olahraga tanpa ada ahli kesehatan yang mendampingi, tak sedikit yang menambahkan suplemen yang tidak baik dan dipergunakan dengan tidak bijak. Kesemuanya itu menyebabkan jantung jadi tidak sehat. "Salah satu dampaknya bisa aritmia," tambah Arora.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

"Ketika seseorang berusia 20 tahunan katakan begitu, mereka latihan ekstra keras, mereka perlahan-lahan mengembangkan penyumbatan yang dapat diabaikan karena peningkatan kolesterol atau faktor genetik lainnya," tambah dia.

Namun, sambungnya, ketika orang tersebut menghadapi stres akut, mengalami aktivitas fisik yang signifikan tanpa persiapan atau stres biologis seperti infeksi, pengerahan tenaga yang ekstra pada jantung menyebabkan gumpalan terbentuk di dekat penyumbatan yang sudah ada, dan akhirnya bisa serangan jantung.

Menjadi pertanyaan sekarang, apakah konsumsi makanan yang sehat dan olahraga yang benar akan menurunkan risiko serangan jantung di atas?

Dikatakan pada laman Times of India bahwa tidak ada keraguan bahwa gaya hidup yang sehat dapat menurunkan risiko seseorang mengalami penyakit kardiovaskular. Bahkan, menurunkan risiko penyakit kronis lainnya seperti diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, dan hiperglikemia.

Olahraga rutin dan diet yang bergizi-seimbang tentu memainkan peran yang penting dalam mencegah penyakit. Namun, jika Anda sudah memiliki faktor genetik, bawaan penyakit yang lebih sering diturunkan dari pihak ayah, maka perlu ekstra pencegahan dan intervensi.

"Ketika faktor genetik bermain, tidak banyak yang dapat dilakkan untuk mencegah penyakit kardiovaskular sepenuhnya, tetapi faktor risiko dari penyakit ini dapat dikurangi," tambah Pillai.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini