Share

Banyak Orang Acuhkan Kesehatan Mental Gara-Gara Stigma Negatif

Tim Okezone, Jurnalis · Minggu 19 Desember 2021 14:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 19 612 2519325 banyak-acuhkan-kesehatan-mental-gara-gara-stigma-negatif-LDQpUJQRig.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PANDEMI yang belum juga selesai memang bisa membuiat seseorang stres. Tidak jarang, mereka pun mengalami gangguan kesehatan mental apalagi dengan varian baru seperti varian omicron.

Idealnya, kita memang berkonsultasi dengan psikolog untuk mengetahui kondisi mental kita. Hanya saja, tidak semua orang mau berbicara dengan para psikolog. Hal ini tiak lepas dari komentar miring dari orang, ketika seseorang mengunjungi psikolog.

Audrey Maximillian Herli selaku Co-Founder & Chief Executive Officer of Riliv mengungkapkan bahwa stigma negatif masyarakat terhadap kesehatan mental masih menjadi tantangan terbesar hingga saat ini.

"Memang tantangan ya. Challenge dalam membangun layanan kesehatan mental di Indonesia memang stigma negatif tidak lepas ya. Jadi kita melihat kesadaran kesehatan mental itu sendiri masih rendah," ungkap Maxi seperti dilansir dari Antara.

Maxi menjelaskan, masih banyak sekali masyarakat di Indonesia yang memandang sebelah mata seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental. Kebanyakan masyarakat justru menilai mereka kurang ibadah, atau bahkan gila.

Menurut Maxi, hal ini disebabkan karena kesehatan mental berbeda dengan kesehatan fisik. Jika penyakit fisik bisa terlihat dan dengan mudah terdeteksi, penyakit mental tidak dapat terlihat dengan kasat mata dan sulit untuk dideteksi. "Karena penyakit mental itu tidak terlihat. Kalau fisik kan flu itu kelihatan pucat atau apa. Tapi kesehatan mental itu nggak," jelas Maxi.

Lebih lanjut, Maxi memaparkan bahwa menurut data dari WHO, setiap 40 detik 1 orang meninggal akibat bunuh diri karena mengalami depresi. Oleh sebab itu, pihaknya tetap berusaha untuk menyediakan platform layanan kesehatan mental untuk masyarakat Indonesia meskipun banyak tantangan yang dialami.

"Menurut WHO setiap 40 detik, 1 orang meninggal bunuh diri akibat depresi ya. Jadi depresi ini juga dari masalah pribadi. Dari permasalahan ini, akhirnya saya sama saudara saya kita membuat platform yang bisa membuat mereka terhubung dengan psikolog profesional di mana pun dan kapan pun," kata Maxi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini