Share

Tak Ada Solusi Tunggal untuk Hentikan Covid-19, Mari Belajar dari 3 Negara Ini

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 30 Desember 2021 14:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 30 481 2524958 tak-ada-solusi-tunggal-untuk-hentikan-covid-19-mari-belajar-dari-3-negara-ini-VJ6egrguWl.jpg Pandemi Covid-19 (Foto: Business standard)

PANDEMI Covid-19 terus menghantui dunia. Saat ini tidak ada solusi tunggal yang dapat menghentikan Covid-19. Oleh sebab itu masyarakat harus bisa belajar dari situasi terbaru yang dialami Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Norwegia saat ini.

Vaksinasi memang menjadi senjata yang ampuh untuk melawan Covid-19 karena bisa menurunkan risiko keparahan seseorang.

Meski demikian, cakupan vaksinasi yang tinggi saja tidak menyambin suatu negara bakal terbebas dari bayang-bayang Covid-19.

Merangkum dari unggahan laman Instagram resmi Komite Percepatan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), @lawancovid19_id, Kamis (30/12/2021), memberikan penjelasan penyebab negara dengan cakupan vaksin dosis lengkap lebih dari 60 persen, namun saat ini sedang menghadapi kenaikan kasus positif dan kematian yang cukup signifikan akibat Covid-19.

 pandemi Covid-19

1. Amerika Serikat (AS)

Berdasarkan data per 24 Desember 2021 dari laman ourworldindata.org, cakupan vaksin dosis lengkap Covid-19 di Negeri paman Sam ini lebih dari 61 persen. Namun kondisi Covid-19 di AS kini sedang sangat memperihatinkan. Adapun hal yang menjadi penyebabnya adalah:

-Tidak disertai pengaturan kegiatan masyarakat.

-Mobilitas dan perjalanan antar negara yang terus meningkat.

-Penggunaan masker tidak menjadi kewajiban.

-Pengawasan protokol kesehatan lain tidak dilakukan dengan ketat.

2. Norwegia

Berdasarkan data per 22 Desember 2021 dari laman ourworldindata.org, cakupan vaksinasi Covid-19 dosis lengkap lebih dari 71, 57 persen. Sayangnya jumlah kasus Covid-19 justru di Norwegia justru sedang meningkat saat ini. Adapun penyebabnya adalah:

-Masifnya kegiatan pesta menjelang Natal dan Tahun Baru.

-Kegiatan belajar di sekolah dengan lengahnya protokol kesehatan, terutama penggunaan masker.

-Perjalanan antar negara Eropa yang tinggi tidak diikuti dengan peraturan dan syarat perjalanan yang ketat.

-Tingginya ketergantungan antarnegara sehingga lebih sulit untuk menerapkan kebijakan perjalanan seperti testing dan karantina.

 Baca juga:  Kabar Baik, Peneliti Sudah Temukan Cara Ampuh Lawan Omicron

3. Korea Selatan

Berdasarkan data per 24 Desember 2021, dari laman ourworldindata.org, cakupan vaksinasi Covid-19 dosis lengkapnya sangat tinggi mencapai lebih dari 82,37 persen. Namun tingginya cakupan vaksinasi tidak diimbangi dengan sistem pencegahan Covid-19 yang baik. Penyebabnya adalah:

-Persiapan menuju endemi tidak dilakukan dengan baik.

-Pembukaan bertahap pada aktivitas masyarakat dengan lemahnya protokol kesehatan.

-Jam operasional bar dan restoran serta tempat umum lainnya tidak dibatasi.

Sementara berdasarkan data per 24 Desember 2021 dari laman vaksin.kemkes.go.id, tren kasus positif dan kasus kematian Covid-19 di Indonesia memang terus menurun. Namun perlu diingat bahwa cakupan vaksinasi dosis lengkap di Tanah Air baru mencapai 52,93 persen dari target vaksinasi sebanyak 208. 265.720 orang

Per 28 Desember 2021 Indonesia sudah mencatat 47 kasus positif varian Omicron yang terdiri dari 46 orang pelaku perjalanan luar negeri, dan satu kasus akibat transmisi lokal. Pada 29 Desember, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin kembali mengumumkan adanya 21 kasus baru Omicron di Indonesia yang semuanya berasal dari pelaku perjalanan luar negeri.

Pelaku perjalanan dari Arab Saudi yang paling banyak menyumbang kasus positif, disusul dengan Turki, dan Uni Emirat Arab (UEA). Berkaca dari situasi di AS, Norwegia, dan Korea Selatan, perlu diketahui bahwa tidak ada solusi tunggal untuk menghadapi Covid-19. Indonesia harus meningkatkan kewaspadaan dan semaksimal mungkin mencegah potensi penularan Covid-19.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini