Share

100 Orang Meninggal Misterius di Sudan Selatan, Gejalanya Demam Tinggi dan Nyeri Dada

Muhammad Sukardi, Okezone · Kamis 30 Desember 2021 13:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 30 612 2524865 100-orang-meninggal-misterius-di-sudan-selatan-gejalanya-demam-tinggi-dan-nyeri-dada-ujfacaXiRO.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

BELUM juga pandemi Covid-19 berakhir, dan makin banyak negara yang mengalami kenaikan kasus Covid-19, kini muncul kasus baru yang cukup membingungkan. Pasalnya, ada 100 orang yang meninggal di Fangak, Sudan Selatan, karena penyakit yang tidak terdiagnosis.

Dilaporkan Fox News, pada 13 November 2021, Kementerian Kesehatan Sudan Selatan menerima laporan beberapa kematian yang menimpa anak-anak usia 1 hingga 14 tahun, serta lansia dengan gejala demam tinggi, muntah, kelelahan, nyeri sendi, kehilangan nafsu makan, dan nyeri dada tanpa penyebab yang jelas.

Dua hari kemudian, tim ahli kesehatan diterjunkan ke Fangak dan mendapati temuan awal bahwa kasus positif malaria di sana tinggi sekali, berdasarkan pengujian di klinik swasta.

Tim respons cepat menindaklanjuti kasus ini pada 8 Desember 2021, tetapi tidak bisa memverifikasi 89 kematian yang dilaporkan oleh otoritas setempat. Di sisi lain, tim mengkonfirmasi peningkatan kasus malaria di daerah tersebut.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) setelah tahu adanya kasus ini langsung meluncur ke Sudan Selatan untuk menyelidiki lebih lanjut. Sampel diambil untuk pengujian kolera yang merupakan penyakit menular khas di sana, tapi hasilnya negatif, menurut ABC News.

"Kabupaten Fangak adalah salah satu lokasi yang paling terkena dampak banjir di Sudan Selatan. Kejadian itu telah meningkatkan beban penyakit endemik umum seperti malaria dan diare akut," terang laporan WHO, dikutip MNC Portal.

Banjir yang melanda Sudan Selatan diterangkan sebagai bencana alam terburuk dalam 60 tahun terakhir, menyebabkan lebih dari 200.000 orang mengungsi dari rumah mereka. Karena banjir tersebut, para ahli kesehatan mempercayai munculnya badai penyakit.

"Penduduk di sana tidak memiliki cukup air, tidak ada upaya cepat pembersihan lingkungan sehingga bangkai anjing dan kambing dibiarkan membusuk di sistem drainase," ungkap laporan tersebut.

Kondisi ini belum membaik sampai sekarang, bahkan dinilai akan semakin buruk dengan masuknya orang-orang baru ke tenda pengungsian, karena meningkatkan risiko persebaran penyakit seperti diare akut, kolera, dan malaria di antara warga.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini