Share

Peneliti Sebut Bayi dari Ibu Positif Covid-19 Berpotensi Tinggi Defisit Perkembangan Saraf

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 06 Januari 2022 12:27 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 06 612 2528228 peneliti-sebut-bayi-dari-ibu-positif-covid-19-berpotensi-tinggi-defisit-perkembangan-saraf-ZcVbikXaun.jpeg Ilustrasi. (Foto: freepik)

SELAMA Pandemi Covid-19 ini angka kehamilan dan kelahiran memang melonjak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini tidak terlepas dari terhambatnya program Keluarga Berencana (KB) akibat pembatasan mobilitas.

Tapi, sebuah penelitian di JAMA Pediatrics belum lama ini menyebut, mereka yang terpapar Covid-19 saat hamil memiliki kemungkinan memberikan efek samping pada anaknya. 

Penelitian dikerjakan oleh Columbia University Irving Medical Center dengan nama studi kohort prospektif ialah 'Covid-19 Mother Baby Outcomes (COMBO) Initiative'. Dikerjakan sejak 2020, peneliti ingin melihat hubungan antara paparan virus saat bayi masih di dalam kandungan dengan kesehatan ibunya.  

Jadi, para peneliti mempelajari kohort bayi yang terpapar Covid-19 selama kehamilan dan membandingkannya dengan kelompok kontrol dengan usia kehamilan yang sama saat lahir, jenis kelamin, dan cara melahirkan yang tidak terpapar virus.

"Bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi Covid-19 selama kehamilan memiliki risiko tinggi mengalami defisit perkembangan saraf," terang ketua peneliti, dr Dani Dumitriu, dikutip MNC Portal dari Fox News, Kamis (6/1/2022).

Dari hasil studi tersebut, peneliti berencana untuk menemukan beberapa perubahan dalam perkembangan saraf bayi yang ibunya terpapar Covid-19 selama kehamilan. Ini penting supaya menurunkan risiko keterlambatan perkembangan pada bayi yang dilahirkannya.  

Tapi, peneliti terkejut pada hasil studi ini. Sebab, bukan virus Covid-19 yang menyebabkan hal tersebut terjadi, melainkan kondisi rahim si ibu yang terpapar Covid-19. Hal ini mengacu pada data studi bahwa rahim seorang ibu yang terpapar Covid-19 dikaitkan dengan skor yang sedikit lebih rendah di berbagai bidang seperti keterampilan motorik dan sosial.

Lebih detailnya, para peneliti mempelajari 255 bayi yang lahir selama pandemi pada 2020, 45 persen dari mereka berasal dari ibu yang pernah terpapar Covid-19. Dari 45 bayi tersebut, peneliti membandingkan dengan 62 bayi yang lahir sebelum pandemi.

Studi menemukan bahwa bayi yang lahir selama pandemi 2020 terlepas dari apakah mereka terpapar Covid-19 selama di kandungan atau tidak, memiliki skor keterampilan motorik kasar, motorik halus, dan pemecahan masalah yang lebih rendah dibanding bayi yang lahir sebelum pandemi.

Meski hasil studi ini sahih, tapi penelitian tersebut masih memiliki beberapa keterbatasan, antara lain dilakukan hanya di satu lokasi yaitu di New York City ketika Covid-19 di AS menjadi episentrumnya kala itu. Lalu, studi hanya mempelajari pola perkembangan hingga usia bayi 6 bulan.

"Perkembangan saraf bayi bersifat subjektif, karena laporan didapat dari pengakuan orangtua," terang studi tersebut.

Terlepas dari itu, studi lain baru-baru ini mengungkapkan bahwa ibu hamil yang terpapar infeksi virus, apapun itu, dapat meningkatkan risiko lahirkan bayi dengan keterlambatan perkembangan saraf dengan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh yang pada akhirnya memengaruhi perkembangan otak.  

Bahkan, studi lainnya lebih spesifik pada paparan Covid-19 bahwa ibu yang terinfeksi virus corona mengalami masalah seperti pertumbuhan janin yang buruk, bahkan berisiko lahirkan bayi berat badan rendah atau bayi prematur.

"Dengan jutaan bayi yang mungkin terpapar Covid-19 di dalam rahim, dan bahkan banyak ibu yang hidup di bawah tekanan pandemi, ada kebutuhan kritis untuk memahami efek perkembangan saraf bagi generasi mendatang," tambah Dumitriu yang merupakan asisten profesor pediatri dan psikiatri Universitas Columbia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini