Share

Ashanty Tetap ke Turki saat Omicron Marak di Luar Negeri, Epidemiolog: Stop Memperburuk Situasi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 08 Januari 2022 14:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 08 612 2529216 ashanty-tetap-ke-turki-saat-omicron-marak-di-luar-negeri-epidemiolog-stop-memperburuk-situasi-5HtKXG96ty.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

IMBAUAN pemerintah agar tidak bepergian ke luar negeri, kecuali jika mendesak, memang bisa multitafsir. Bagi beberapa orang, bertemu keluarga memang bagian dari kebutuhan mendesak.

Seperti yang dilakukan keluarga Anang dan Ashanty untuk meninggalkan Indonesia pada 20 Desember 2021 ke Turki. Mereka menyebut ada pertemuan keluarga besar yang sudah lama tidak terjadi, sehingga Ashanty yang memiliki penyakit autoimun pun memilih mengambil risiko di tengah merebaknya varian Omicron.

Akibatnya, ketika kembali ke tanah air dia pun terpapar Covid-19, meskipun sebelum terbang dari Turki dia masih dinyatakan negatif. Kementerian Kesehatan pun masih menguji sampel virus Covid-19 yang menyerang Ashanty, sehingga belum dipastikan apakah virus tersebut varian Omicron atau bukan.

Ahli Epidemiolog Griffith University dr Dicky Budiman pun menyesalkan keputusan keluarga Anang dan Ashanty tersebut. Pasalnya, di saat kenaikan kasus Omicron meningkat di seluruh dunia ada baiknya masyarakat menahan diri untuk tidak melakukan perjalanan luar negeri.

"Dalam situasi saat ini, kalau bicara upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalisir potensi perburukan pandemi di Indonesia adalah masyarakatnya agar membatasi diri untuk tidak bepergian ke Luar negeri," tegas Dicky dalam sambungan telepon dengan MNC Portal, Sabtu (8/1/2022).

Ia menambahkan, pemerintah juga sebaiknya mencegah penerbangan ke luar negeri yang tidak esensial. "Sudah, enggak usah ke luar negeri sekarang ini jika tidak penting. Enggak usah, karena itu memperburuk situasi!" tegas Dicky.

Karantina yang dijalani pelaku perjalanan luar negeri pun dikhawatirkan Dicky di situasi Indonesia yang deteksi kasusnya masih belum begitu kuat. Ini berkaitan dengan risiko 'positif lolos'.

"Karantina dari luar negeri itu memiliki potensi (kasus) lolos. Studi pernah dilakukan, dari 1.000 kasus positif pelaku perjalanan luar negeri, ada 5 yang lolos. Ini bahkan di negara yang deteksi kasusnya sangat kuat," paparnya.

Dicky menjelaskan, pada era varian Delta, kasus yang lolos itu berpotensi menyebabkan lockdown. Di Australia dan Selandia Baru bahkan meningkatkan angka kematian.

Lebih jauh lagi, karena ada kemungkinan kasus lolos, ini bisa memengaruhi evolusi virus. Ya, ketika virus menyebar di situasi sekarang di mana sudah banyak orang yang memiliki antibodi, ini memungkinkan virus bereplikasi dan bermutasi.

"Jadi, enggak heran akan ada sub-varian Covid-19 karena virus masih menyebar dan terus bereplikasi dan bermutasi," ungkapnya.

"Oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk membatasi diri melakukan perjalanan luar negeri, terlebih jika hanya untuk senang-senang atau liburan," saran Dicky.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini