Campur Vaksin atau Tetap Sama untuk Booster, Ini Rekomendasi WHO

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 10 Januari 2022 17:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 10 612 2530057 campur-vaksin-atau-tetap-sama-untuk-booster-ini-rekomendasi-who-oqnjWmNbHR.jpg Ilustrasi Vaksin Covid-19. (Foto: Freepik)

BADAN Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan Emergency Use Authorization (EUA) atau izin penggunaan darurat Covid-19 bagi 5 vaksin. 5 vaksin ini akan digunakan sebagai vaksin booster di Indonesia pada 12 Januari.

Tapi, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito mengatakan BPOM masih menunggu hasil uji klinik untuk vaksin primer AstraZeneca dengan booster heterolognya menggunakan Sinovac, Pfizer, dan juga homolog AstraZeneca. Tak hanya itu, Badan POM juga sedang berproses untuk uji klinik vaksin Sinopharm.

Nah, salah satu yang menjadi pertanyaan saat ini adalah apakah vaksin booster yang akan diterima nantinya harus sama dengan vaksin pertama yang kita terima? Melansir halaman WHO, Badan Kesehatan Dunia itu menyebut saat ini belum ada penelitian yang jelas percampuran vaksin.

"Jika Anda bisa, dosis kedua atau ketiga Anda bisa sama dengan vaksin yang sebelumnya Anda terima untuk dosis pertama Anda. Belum banyak data yang tersedia tentang pencampuran vaksin yang berbeda," tulis WHO di situnya.

Dalam paparannya, WHO menyebut dalam situasi di mana dosis kedua AstraZeneca tidak tersedia, para Kelompok Ahli Penasihat Strategis (SAGE) WHO telah menyatakan bahwa dosis kedua Pfizer atau Moderna dapat digunakan.

"Ada beberapa bukti bahwa orang yang menerima satu dosis AstraZeneca diikuti dengan dosis Pfizer atau Moderna memiliki kemungkinan efek samping ringan yang lebih tinggi," tambah WHO.

Di sisi lain, orang yang berusia di atas 60 tahun yang telah menerima dua dosis Sinovac dan Sinopharm juga dapat diberikan dosis ketiga untuk membantu meningkatkan kekebalan, setelah cakupan kelompok prioritas yang tinggi tercapai. "SAGE telah menyatakan bahwa Pfizer atau AstraZeneca dapat digunakan untuk dosis ketiga jika vaksin asli tidak tersedia," jelas WHO.

"Percobaan lebih lanjut sedang dilakukan untuk memahami lebih lanjut tentang dosis campuran, yang akan menginformasikan setiap perubahan di masa depan terhadap rekomendasi WHO," lanjut pernyataan tersebut.

Saat ini data mengenai vaksin yang akan digunakan dengan metode heterolog sedang difinalisasi. Kelima vaksin tersebut diantaranya adalah Coronavac (Sinovac-Biofarma), AstraZeneca, Pfizer, Moderna, dan Zivifax.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini